Minggu, 06 September 2026

7 Panduan Penting Membersihkan dan Berlindung dari Abu Vulkanik Anak Krakatau


RASA1JIWA – Berdasarkan data resmi dari BMKG dan PVMBG, abu vulkanik Anak Krakatau tidak dilaporkan mencapai Jawa Timur pada periode erupsi yang terpantau. Sebarannya justru terkonsentrasi ke arah barat dan barat laut, jauh dari posisi geografis Jawa Timur.

Meski demikian, dinamika sebaran abu sepenuhnya bergantung pada arah dan kecepatan angin, sehingga wilayah terdampak dapat berubah sewaktu-waktu. 

Untuk wilayah Jawa Timur, hingga saat ini belum ada laporan atau data pemantauan yang menyebutkan terdampak abu dari erupsi ini.

Namun, layak dipahami perihal abu vulkanik dari Anak Krakatau. 

Ingatkan pula kerabat yang berada di wilayah terdampak. 

Berdasarkan informasi dari threads.com, material abu vulkanik itu mengandung silika—unsur yang sama untuk pembuatan kaca dan semen. 

Perlakuannya pun berbeda dengan ketika kita berurusan dengan debu jalanan.

Berikut 7 panduan penting yang perlu diperhatikan:

1. Membersihkan Halaman Rumah
Tunggu hingga hujan abu benar-benar selesai. Bersihkan dengan cara disemprot atau disapu pelan. 

Hindari menyiram langsung dengan air ember karena sama artinya dengan membuat lapisan semen di halaman rumah.

2. Membersihkan Kacamata, Jendela, atau Kaca Mobil
Siram dulu dengan air/cuci langsung, jangan hanya dilap dengan kain. Silika yang tajam dapat menggores kaca jika hanya dilap kering.

3. Penggunaan Masker
Gunakan masker KN (seperti saat pandemi COVID-19), bukan hanya masker bedah hijau. 

Basahi masker dengan air supaya agak lembab agar debu terperangkap di luar dan tidak menembus masker. 

Sebisa mungkin gunakan kacamata safety untuk melindungi mata.

4. Jika Mata Kelilipan
Jangan langsung dikucek! Bersihkan dengan air mengalir dan keringkan. Mengucek mata justru akan memperparah iritasi atau perih.

5. Membersihkan Mobil atau Motor
Cuci kendaraan, jangan hanya dilap, agar debu tidak menggores body. 

Jangan menunda mencuci karena abu vulkanik bersifat cenderung asam dan dapat menimbulkan karat pada logam.

6. Menutup Ventilasi Rumah
Lakukan kerja bakti menutup ventilasi rumah dengan kertas, misalnya koran. 

Minimalisir lubang angin yang memungkinkan abu masuk melalui celah-celah tersebut. 

Jika abu sudah terlanjur masuk, butuh hingga seminggu untuk membersihkan total.

7. Jangan Sok Jagoan!
Jangan bernapas tanpa masker saat berada di tengah guyuran abu vulkanik. Abu yang masuk ke sistem pernapasan dapat menyebabkan iritasi dan ISPA. 

Bayangkan ada serpihan beling masuk ke tenggorokan—masker wajib digunakan meskipun terasa sumpek!

Sumber: Threads.com

Tetap waspada dan lindungi diri serta keluarga dari dampak abu vulkanik!

Tag: Abu Vulkanik, Anak Krakatau, Erupsi Gunung Api, Tips Membersihkan Abu Vulkanik, Kesehatan & Masker, Dampak Abu Vulkanik, BMKG, PVMBG, Bencana Alam, Perlindungan Diri, Informasi Terkini

Sabtu, 05 September 2026

Bila "Serba Salah" Menghimpit: Kembali ke Prinsip Dasar, Solusi Islami Keluar dari Kebimbangan


"Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Saat Serba Salah Menghimpit
Ketika hidup terasa seperti jalan buntu, ketika setiap pilihan terasa salah di mata orang lain—itulah momen paling kritis bagi seorang Muslim. 

Sikap terbaik adalah BERHENTI sejenak, menarik napas, lalu KEMBALI ke PRINSIP DASAR keimanan, bukan sibuk memikirkan opini dan penilaian manusia.

Inilah solusi terbaik dari jebakan serba salah, sebagaimana diingatkan dalam artikel "Saat Ekonomi Tertekan, 'Serba Salah' Bukan Lagu—Tapi Jerat Struktural yang Dirasakan Semua Lapisan". 

Namun bagi kita yang beriman, ada obat penawar yang lebih kuat: kembali kepada Allah dan syariat-Nya.

4 Langkah Konkret Islami Keluar dari Kebimbangan

1. Kembali ke "Skala Prioritas" (Fiqih Prioritas)
Tanyakan pada diri sendiri dengan jernih:
"Apa yang lebih besar maslahatnya (kebaikannya) dan lebih kecil mudaratnya (kerusakannya)?"

Allah berfirman:
"...Dan Dia tidak menjadikan kesulitan bagi kamu dalam agama."
(QS. Al-Hajj: 78)

Mana yang lebih besar dosanya

Membiarkan anak kelelahan, atau membiarkan keledai kelelahan? 

Jika keledai kuat dan anak lelah, maka menaikkan anak adalah pilihan yang lebih adil. 

Tapi jika keduanya lemah? Maka carilah jalan tengah yang tidak membebani keduanya.

Prinsip agung dalam Islam:
"Menolak kerusakan (mafsadah) didahulukan daripada meraih kebaikan (maslahah)."
(Kaidah Fiqih)

· Jika dua pilihan sama-sama baik → pilih yang lebih besar manfaatnya.

· Jika dua pilihan sama-sama buruk → pilih yang paling ringan risikonya.

· Jika satu baik dan satu buruk → wajib memilih yang baik.

2. Lakukan "Shalat Istikharah" — Senjata Utama Muslim
Inilah kekhususan yang Allah berikan kepada umat Islam. 

Saat bimbang, kita tidak hanya mengandalkan logika semata, tapi juga meminta petunjuk langsung dari Pencipta yang Maha Mengetahui masa depan.

Caranya:
1. Shalat sunnah 2 rakaat (bukan wajib, tapi sangat dianjurkan).

2. Baca doa istikharah yang diajarkan Rasulullah:
   "Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini lebih baik bagi agamaku, kehidupanku, dan akhiratku, maka takdirkanlah untukku dan mudahkanlah bagiku. Namun jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini lebih buruk bagiku, maka jauhkanlah ia dariku..."
   (HR. Bukhari)

3. Setelah itu, bulatkan hati pada satu pilihan, lalu jalani dengan penuh keyakinan. 

Jangan berganti-ganti keputusan hanya karena komentar baru datang dari orang yang tidak bertanggung jawab atas hidup kita.

3. Ambil Sikap "Tidak Memihak" — Jika Kau Bukan Pihak yang Berkepentingan
Jika kita bukan pihak yang berkepentingan langsung (misal: kita hanya penonton, bukan yang merasakan dampaknya), maka sikap terbaik adalah DIAM atau memberi nasihat tanpa menghakimi.

Rasulullah bersabda:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari & Muslim)

Renungkan: Terkadang, solusi atas kebimbangan kita sendiri adalah tidak ikut campur jika memang tidak dimintai pendapat. 

Jangan menjadi "hakim" bagi urusan orang lain, apalagi jika kau tidak mengetahui duduk perkaranya secara utuh.

Allah mengingatkan:
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain..."
(QS. Al-Hujurat: 12)

4. Tetapkan "Titik Berhenti" dengan Qana'ah
Jangan mencari keputusan yang "sempurna" di mata semua orang—itu mustahil.

Carilah keputusan yang "cukup baik" —cukup adil, tidak melanggar syariat, dan telah melalui pertimbangan matang.

Jika kamu sudah memutuskan setelah musyawarah dan istikharah, berhentilah membanding-bandingkan. Katakan dalam hati:
"Ini pilihan terbaik yang saya mampu saat ini. Sisanya, aku serahkan kepada Allah."

Rasulullah bersabda:
"Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan baginya, dan itu tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin: jika mendapat kebahagiaan ia bersyukur—itu baik baginya, dan jika tertimpa musibah ia bersabar—itu pun baik baginya."
(HR. Muslim)

Qana'ah (merasa cukup dengan ketetapan Allah) adalah kunci kebahagiaan. Dengan qana'ah, kita tidak akan terus-menerus digerogoti oleh penyesalan dan perbandingan.

Langkah Darurat Saat Serba Salah

Langkah Aksi
1. Diam & Tarik Napas Jangan buru-buru merespons komentar orang. Beri ruang pada hatimu.

2. Timbang dengan Akal & Hati Mana yang lebih tidak merugikan? Mana yang lebih besar kebaikannya?

3. Shalat Istikharah & Doa Mohon petunjuk Allah—Dia Maha Tahu yang terbaik.

4. Putuskan & Jalani Setelah putus, abaikan pendapat baru yang masuk. Bulatkan tekad.

PESAN UTAMA: Hanya Allah yang Paling Tahu
Kesimpulan itu bertolak dari satu keyakinan fundamental:

Orang yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita adalah Allah, lalu diri kita sendiri—bukan penonton di pinggir jalan.

Allah berfirman:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)

Maka, ketika dunia berbisik "kamu salah", ingatlah bahwa yang menentukan benar-salah hakiki hanyalah Allah. Cukuplah Dia sebagai penolong dan pemberi petunjuk.
"Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."
(QS. Al-Baqarah: 214)

Ya Allah, tunjukkanlah kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya. Aamiin. ๐Ÿคฒ




Jumat, 04 September 2026

Saat Ekonomi Tertekan, "Serba Salah" Bukan Lagu—Tapi Jerat Struktural yang Dirasakan Semua Lapisan


RASA1JIWA - Belakangan, kata "serba salah" terasa makin sering terdengar. Bukan hanya dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga menjadi semacam mood kolektif yang meresap di berbagai lini kehidupan.

Di media sosial, warung kopi, bahkan ruang rapat kantor—keluhan tentang kebimbangan mengambil keputusan di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu seolah menjadi pengalaman bersama.

Dalam kaitan ini, ditawarkan pula solusi dengan pendekatan Islami, judul "Bila 'Serba Salah' Menghimpit: Kembali ke Prinsip Dasar, Solusi Islami Keluar dari Kebimbangan"

Namun, "serba salah" di sini bukan sekadar lagu lawas atau gaya bahasa semata. 

Serba Salah adalah cerminan nyata dari tekanan struktural yang kini menjerat hampir semua lapisan masyarakat. 

Ketika ekonomi lesu, pilihan-pilihan yang tersedia tak lagi hitam-putih, melainkan abu-abu—dan setiap langkah terasa berisiko.

Karyawan dan Pengusaha: Antara Bertahan dan Beretika
Di sektor riil, dilema paling keras dirasakan oleh pengusaha kecil dan menengah serta karyawan yang menggantungkan hidup pada satu roda ekonomi. 

Di satu sisi, bisnis harus berjalan. Di sisi lain, biaya produksi melonjak, daya beli pelanggan menurun, dan margin keuntungan menipis.

Pengusaha dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga atau mengurangi karyawan. Dua-duanya menyakitkan. 

Menaikkan harga berarti membebani konsumen yang juga sedang kesusahan. 

Mengurangi karyawan berarti memutus penghidupan orang lain—yang mungkin sudah bekerja bertahun-tahun.

Inilah yang disebut sebagai trade-off moral. Bukan karena mereka ingin, tetapi karena tidak ada pilihan lain. 

Seorang pemilik usaha kecil di industri makanan ringan mengungkapkan:

"Saya tahu karyawan saya butuh gaji, tapi kalau saya tidak naikkan harga, saya yang bangkrut. Saya serba salah."

Beban psikologis ini nyata. Mereka tak hanya memikirkan neraca keuangan, tetapi juga hati nurani.

Konsumen Rumah Tangga: Hemat Dibilang Pelit, Boros Dibilang Tidak Bijak
Di tingkat rumah tangga, rasa "serba salah" bahkan lebih kasat mata. 

Harga kebutuhan pokok—mulai dari beras, minyak goreng, hingga sayuran—terus merangkak naik. 

Sementara itu, penghasilan sebagian besar pekerja stagnan, tidak bergerak seiring inflasi.

Ibu rumah tangga menghadapi teka-teki harian: Jika menahan belanja, keluarga bisa kekurangan gizi. Jika tetap belanja tanpa batas, keuangan rumah tangga jebol di tengah bulan. Tidak ada jalan tengah yang nyaman.

Yang lebih ironis lagi, keputusan berhemat sering kali mendapat stigma sosial. 

Orang yang mulai mengatur pengeluaran secara ketat dicap "pelit" atau "kikir". 

Sebaliknya, yang berusaha tetap memenuhi kebutuhan keluarga dianggap "boros" atau "tidak bijak" mengelola uang. 

Di tengah tekanan ekonomi, mereka justru dihakimi secara sosial atas pilihan-pilihan yang sebenarnya tidak mereka inginkan.

Kebijakan Pemerintah: Tak Naik, Rakyat Lega tapi Negara Tekor. Naik, Rakyat Meradang
Pemerintah pun tak luput dari jerat "serba salah". 

Setiap kali ada wacana menaikkan harga BBM, tarif listrik, atau pajak, gelombang protes nyaris selalu menyusul. 

Namun di sisi lain, jika harga tidak disesuaikan dengan kondisi keekonomian global, subsidi membengkak dan defisit anggaran mengancam stabilitas fiskal negara.

Maka lahirlah kebijakan-kebijakan kompromistis yang sering kali memicu kekecewaan dari semua kubu. 

Dinaikkan perlahan, dianggap tidak cukup tegas. Dinaikkan sekaligus, dianggap tidak berperikemanusiaan. 

Pemerintah kerap berada di posisi yang tidak bisa memuaskan siapa pun—dan ini pun menjadi bagian dari beban kolektif yang dirasakan rakyat.

Seorang pengamat kebijakan publik mencatat:

"Ketika negara sedang sakit, obat apa pun terasa pahit. Tetapi tanpa obat, sakitnya semakin parah. Itulah serba salah yang sesungguhnya."

Kelas Menengah Rentan: Terjepit di Antara Dua Jurang
Namun, jika ada satu kelompok yang paling keras merasakan dampak "serba salah" secara struktural, itu adalah kelas menengah. Mereka berada di posisi paling terjepit:
· Tidak cukup miskin untuk menerima bantuan sosial seperti PKH, BPNT, atau subsidi listrik.

· Tidak cukup kaya untuk menyerap lonjakan biaya hidup tanpa mengubah gaya hidup secara drastis.

Akibatnya, kelas menengah terpaksa memangkas pengeluaran yang sebelumnya dianggap wajar: mulai dari mengurangi makan di luar, menunda pembelian kendaraan, hingga menarik anak-anak dari sekolah swasta ke negeri. 

Mereka kehilangan "kemampuan untuk tetap terlihat baik" di mata lingkungan—dan ini menimbulkan stres sosial yang diam-diam menggerogoti kesehatan mental.

Data internal berbagai lembaga survei menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan diri ekonomi (economic confidence) kelas menengah anjlok dalam dua tahun terakhir, bahkan lebih tajam dibanding kelompok miskin maupun kaya. Sebab, mereka kehilangan jaring pengaman di kedua sisi.

Bukan Sekadar Keluhan, Tapi Gejala Sistemik
Ketika rasa "serba salah" menjadi pengalaman lintas lapisan—dari buruh, ibu rumah tangga, pengusaha, birokrat, hingga kelas menengah—maka ia bukan lagi sekadar keluhan individu. "Serba salah" adalah gejala sistemik dari ekonomi yang tidak lagi menyediakan ruang gerak yang adil.

Masyarakat tidak dibiarkan memilih secara rasional; mereka dipaksa memilih antara dua hal yang sama-sama merugikan. 

Dalam ilmu ekonomi, ini disebut sebagai "negative-sum trade-off"—setiap pilihan menghasilkan kerugian, tinggal seberapa besar yang bisa ditoleransi.

Jika dibiarkan, jerat "serba salah" ini akan terus menghantui, menggerus kepercayaan publik, dan melemahkan kohesi sosial. 

Maka, jalan keluarnya bukanlah mencari siapa yang benar atau salah, melainkan menciptakan ruang fiskal dan kebijakan yang memberikan alternatif ketiga—sebuah jalan keluar yang tidak mengorbankan satu pihak demi pihak lain.

Pesan Utama: Saatnya Melampaui Dikotomi
"Serba salah" bukanlah takdir. Ia adalah cerminan dari kebijakan yang terlambat, perlindungan sosial yang tidak tepat sasaran, dan ketimpangan yang makin melebar. 

Masyarakat butuh kepastian, bukan sekadar simpati.

Karena pada akhirnya, ketika ekonomi tertekan, yang dibutuhkan bukanlah lagu penghibur—tetapi terobosan nyata yang membuat rakyat tidak lagi terjebak dalam pilihan-pilihan yang menyakitkan.

Tentang "serba salah" ini pula mengingatkan kita pada fabel keledai lawas dari Arab: seekor keledai yang kelaparan di antara dua tumpukan jerami yang sama persis jaraknya—ia tak bisa memilih, lalu mati kehabisan tenaga. 

Begitulah risiko ketika sistem hanya menyediakan pilihan yang tampak setara, tetapi sama-sama melemahkan.

Artikel ini disusun berdasarkan fenomena sosial-ekonomi terkini dan pengalaman lintas lapisan masyarakat.



Ekonomi Jalan di Tempat: Belanja Pemerintah Melesat, Daya Beli Rakyat Terperosok


RASA1JIWA - Tekanan yang dirasakan masyarakat saat ini bukan sekadar perlambatan ekonomi, melainkan cerminan dari pertumbuhan yang tidak merata (anomali struktural). 

Di satu sisi, data makroekonomi nasional tampak cemerlang—pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat solid di angka 5,29% pada Kuartal II 2026. 

Namun di sisi lain, daya beli dan tingkat kesejahteraan riil warga justru tergerus. 

Fenomena ini lahir dari kombinasi beberapa indikator fundamental yang saling berkaitan:

1. Perubahan Pola Belanja & Tekanan Kelas Menengah
Pertumbuhan belanja masyarakat mulai melandai (diprediksi hanya sekitar 6% di Q3 2026), dengan pergeseran signifikan menuju kebutuhan pokok. 

Sementara itu, belanja untuk hiburan dan barang diskresioner terkontraksi. 

Segmen kelas menengah-bawah adalah yang paling terpukul: pertumbuhan ekonominya hanya mencapai 3,5%, tabungan masyarakat terkuras ("makan tabungan"), dan proporsi pendapatan yang dialokasikan untuk membayar cicilan utang justru meningkat.

2. Kenaikan Biaya Produksi dan Tekanan pada UMKM
Harga minyak dunia yang masih bertengger di atas $95 per barel mendorong lonjakan biaya bahan baku. 

Namun, karena daya beli konsumen lesu, para pelaku usaha—khususnya UMKM sektor perdagangan—tidak berani menaikkan harga jual. 

Resikopun tak dapat dihindari. Margin keuntungan dan omzet mereka tergerus. 

Kondisi ini tercermin dari tingginya rasio kredit macet (NPL) UMKM yang mencapai 4,54%, sinyal bahwa sektor riil sedang kesulitan beradaptasi.

3. Upah Riil Minim & Ketergantungan pada Belanja Pemerintah
Kenaikan upah riil pekerja yang diperkirakan hanya sekitar 4% masih lebih rendah dari laju pertumbuhan ekonomi. Ini tidak cukup signifikan untuk mendorong peningkatan daya beli. 

Lebih jauh, mesin pertumbuhan ekonomi saat ini sangat ditopang oleh belanja pemerintah (misalnya melalui program MBG dan infrastruktur), bukan berasal dari kekuatan konsumsi swasta atau ekspansi dunia usaha yang mandiri. 

Hal ini membuat fondasi pemulihan ekonomi terasa rapuh di tengah masyarakat.

Data pada artikel ini dihimpun dari beragam sumber terpercaya.

Kelas Menengah: Terlalu Miskin untuk Gaya Hidup, Terlalu Kaya untuk Bansos—Di Mana Posisi Kita di Tahun 2026?


RASA1JIWA - Ada satu kalimat yang paling tepat menggambarkan kondisi rumah tangga kelas menengah di Indonesia saat ini, khususnya di tahun 2026.

“Kami tidak cukup miskin untuk dapat bantuan sosial, tapi tidak cukup kaya untuk menyerap lonjakan biaya hidup tanpa kaget.”

Itulah definisi paling jujur dari rasa “kepayang” yang kini menghantui banyak keluarga. 

Secara statistik, pendapatan mereka mungkin naik, tapi secara riil, dompet terasa semakin tipis. 

Dalam istilah teknis, kelompok ini disebut sebagai Vulnerable Middle Class atau kelas menengah rentan. 

Mereka adalah "sandwich" dalam skala ekonomi makro.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat kelas menengah begitu tercekik? 

Mari kita bedah posisi rapuh yang mereka diami, yang sering saya sebut sebagai posisi APBD (Ambang Pinjaman-Bantuan-Darurat).

Terlalu "Kaya" untuk Bansos, Terlalu "Miskin" untuk Cadangan
Pendapatan rumah tangga kelas menengah biasanya berada di atas Upah Minimum Provinsi (UMP) atau garis kemiskinan. 

Secara angka, mereka lolos dari kriteria penerima Bantuan Sosial (Bansos) seperti PKH atau BLT. Namun, mereka juga tidak memiliki aset likuid yang memadai.

Sebagian besar dari mereka tidak memiliki tabungan darurat yang cukup untuk menutupi kebutuhan hidup selama 3 bulan jika tiba-tiba kehilangan pekerjaan. 

Pendapatan memang cukup untuk bertahan hidup hari ini, tapi sama sekali tidak cukup untuk membangun benteng finansial masa depan.

Terlalu "Miskin" untuk Gaya Hidup Modern
Inilah pelananya. Untuk keluarga kelas menengah perkotaan, cicilan adalah "makanan pokok" kedua setelah nasi.

Istilah "inilah pelananya" (dari kata dasar pelana — tempat duduk di kuda) ini merupakan ungkapan kiasan untuk menyebut "intinya", "poin utamanya", atau "masalah utamanya".

· Cicilan KPR (rumah) dan Kendaraan menjadi kebutuhan primer karena akses dan mobilitas.

· Biaya Pendidikan Anak yang terus meroket.

Ketiga pos ini secara kolektif menyedot 60–70% dari total penghasilan bulanan. 

Ketika terjadi kenaikan harga BBM, kenaikan PPN, atau lonjakan harga pangan—bahkan hanya 5% saja—uang belanja dapur langsung tergerus. 

Mereka tidak bisa memindahkan anak ke sekolah negeri yang jauh, dan tidak bisa menjual rumah dalam sekejap. 

Akhirnya, yang dikorbankan adalah kualitas gizi, rekreasi, atau tabungan.

Ketakutan Sakit yang Konstan
Di sektor kesehatan, kelas menengah berada di zona abu-abu yang paling berbahaya. Jika sakit, pilihan mereka terbatas:
· RS Swasta: Biaya perawatan sehari bisa setara dengan sebulan gaji, menguras habis tabungan.

· BPJS Kelas 3: Meskipun murah, antrean panjang dan fasilitas yang terbatas membuat banyak dari mereka enggan, apalagi jika kondisi darurat.

Rasa takut sakit ini menjadi beban psikologis yang luar biasa. 

Ini karena satu kecelakaan kecil bisa mengubah status mereka dari "kelas menengah" menjadi "miskin baru" dalam hitungan minggu.

Kaget dengan Pajak, Tanpa Subsidi
Saat gaji menyentuh angka Rp 10–15 juta per bulan, mereka resmi masuk lapisan Pajak Penghasilan (PPh) tarif 15%. 

Mereka membayar pajak dengan patuh, yang ujungnya digunakan untuk mensubsidi kelompok masyarakat kurang mampu. 

Namun, di saat yang sama, mereka tidak menerima subsidi apapun—entah itu subsidi listrik, BBM, ataupun insentif perumahan.

Mereka adalah “penyumbang” negara, tetapi tidak dilindungi oleh negara saat terjadi gejolak ekonomi.

Memahami "Sandwich Ganda": Lebih dalam dari sekadar Generasi Sandwich
Sering kita mendengar istilah "Generasi Sandwich" yang merujuk pada beban menanggung 3 generasi: Orang tua, diri sendiri, dan anak. 

Namun, kondisi kelas menengah di Indonesia kini lebih berat, karena mereka mengalami "Sandwich Ganda" :

Sandwich Secara Keluarga (Generasi Sandwich)
Ini adalah definisi populer. Seorang ayah/ibu dengan gaji Rp 10 juta harus membagi:
· Rp 2 juta untuk orang tua (atas),
· Rp 3 juta untuk biaya sekolah anak (bawah),
· Sisanya hanya Rp 5 juta untuk hidup berdua dengan pasangan di kota besar. Pahit.

Sandwich Secara Ekonomi Makro (Kondisi Saat Ini)
Ini yang jarang dibahas. Mereka diapit oleh dua sisi kebijakan negara:

· Di satu sisi, mereka tidak dapat bansos karena dianggap mampu (penghasilan di atas garis kemiskinan).

· Di sisi lain, mereka tidak dapat relaksasi pajak atau insentif bisnis karena dianggap tidak sekaya pengusaha besar.

Resiko yang tak dapat dihindari, ketika harga naik, mereka menanggung beban penuh tanpa "jaring pengaman" dari pemerintah. 

Mereka membayar pajak untuk rakyat, tetapi mereka sendiri bukanlah prioritas rakyat yang dilindungi.

Akhir dari "Middle Class Trap"
Fenomena ini sudah memiliki nama di kancah global: Middle Class Trap. 

Ini adalah jebakan. Pendapatan memang naik, tetapi biaya hidup (terutama inflasi gaya hidup) naik jauh lebih cepat. 

Dampak akhir, yang dirasakan oleh rumah tangga bukanlah "naik kelas", melainkan stres finansial kronis.

Penghasilan mungkin bertambah, tapi rasanya tetap kepayang. Uang habis di "tengah"—terjepit antara kebutuhan diri sendiri dan tuntutan sistem yang semakin mahal.

Pesan Utama
Jika kita merasa seperti ini, kita tidak sendirian. 

Kelas menengah adalah tulang punggung ekonomi negeri. Namun, sudah saatnya kita lebih cerdas mengelola keuangan, dan lebih vokal menuntut kebijakan yang tidak hanya berpihak pada yang miskin atau yang kaya, tapi juga pada mereka yang berjuang di tengah.


Jejak Fabel: Keledai dalam Lintasan Sejarah dan Budaya


RASA1JIWA - Dahulu kala, hiduplah seorang bapak, anaknya yang masih belia, dan seekor keledai teman setia mereka. 

Suatu hari, mereka memutuskan pergi ke pasar kota. Si Bapak dan anaknya berjalan kaki, sementara keledai berjalan di samping mereka tanpa beban.

"Lihat orang tua itu! Dasar bodoh, punya keledai malah tidak dinaiki," cibir seorang pedagang yang lewat.

Mendengar itu, si Bapak pun naik ke punggung keledai, sementara anaknya berjalan di sampingnya.

Tak lama kemudian, mereka berpapasan dengan sekelompok ibu-ibu. "Kasihan anak itu, kecil-kecil sudah disuruh jalan kaki. Si Bapak tega sekali duduk manis di atas keledai," gumam mereka.

Si Bapak merasa malu. Ia turun dan menyuruh anaknya naik. Kini giliran si anak yang menunggangi keledai.

Namun di tikungan berikutnya, seorang kakek menggeleng-geleng. "Anak muda zaman sekarang! Tak tahu sopan, membiarkan bapaknya jalan kaki, sementara ia enak-enakan di atas keledai."

Anak itu pun turun. Mereka berdua kemudian naik bersama di atas keledai, berpikir itu solusi paling adil.

Tapi belum jauh, mereka bertemu dengan sekelompok petani. "Dasar tega! Keledai kecil itu dipaksa menggendong dua orang. Kalian tidak punya hati nurani?" sindir mereka.

Bingung dan putus asa, si Bapak dan anaknya turun dari keledai. 

Dengan pikiran kalut, mereka mengikat kaki keledai, menyorongkan sebatang bambu di antara kakinya, lalu menggotong keledai itu bersama-sama di atas pundak mereka.

Dan seperti yang bisa kamu tebak, di tengah jembatan kecil, keledai yang ketakutan menggeliat dan terlepas. Byur! Ia terjatuh ke sungai dan hanyut terbawa arus.

Dengan pakaian basah kuyup dan hati yang hancur, mereka berdua terduduk di pinggir jalan. Mereka belajar pelajaran paling berharga hari itu:

"Jika kau terus mencoba menyenangkan semua orang, pada akhirnya kau tak akan menyenangkan siapa pun—termasuk dirimu sendiri."

Pegang Pendirian Sendiri 
Sejak saat itu, si Bapak dan anaknya berjalan dengan kepala tegak. Mereka mendengarkan nasihat orang, tetapi tetap memegang pendirian mereka sendiri. 

Dan keledai? Mereka membeli keledai baru—dan kali ini, mereka menaikinya dengan percaya diri, tanpa peduli omongan orang. 
Karena hidup bukanlah perlombaan menyenangkan semua orang, melainkan perjalanan untuk menjadi diri sendiri.

Cerita ini tergolong sebagai fabel, yaitu cerita pendek dengan tokoh binatang yang berperilaku seperti manusia dan mengandung pesan moral. 

Bukan legenda karena legenda biasanya dianggap pernah terjadi dan berlatar sejarah.

Menariknya, kisah ini termasuk fabel yang sangat mendunia, dengan jejak yang panjang dan lintas budaya .

Jejak tertua yang masih ada tercatat dalam karya sejarawan Arab abad ke-13, Ibnu Said.

Pada Abad Pertengahan, cerita ini menyebar ke Eropa dan muncul dalam berbagai koleksi cerita , salah satunya dalam Tales of Count Lucanor (1335) dari Spanyol. 

Beberapa versi Eropa bahkan berakhir lebih tragis, dengan keledai yang mati.

Kamis, 03 September 2026

Pertanda Iman dan Hati Sehat: Saat Menu Sederhana Terasa Begitu Nikmat


RASA11JIWA - Pernahkah kita duduk di meja makan dengan sepiring nasi hangat, sepotong telur dadar, dan sambal terasi yang menggoda? Lalu tiba-tiba merasa bahwa hidangan itu terasa begitu istimewa?

Rasanya bukan sekadar mengenyangkan, tetapi juga membahagiakan. Seolah ada "bumbu rahasia" yang membuat lidah bergoyang dan hati turut bersyukur.

Jika kita pernah mengalaminya, itu adalah pertanda baik. Bukan sekadar selera makan yang sedang bagus, melainkan sebuah isyarat bahwa iman dan hati kita dalam keadaan sehat.

Pemahaman itu saya dapatkan dari beberapa ulama terkait pengalaman pribadi. Malah, sehari-hari, saya lebih terbiasa makan buah dan sayur yang terasa sangat nikmat.

Ada kalanya saya pingin nasi. Cukup dengan sambal dan menu ikan "klotok" olahan teman, sangat mengangenkan. Begitu istimewanya yang saya dapatkan.

Saya tidak pernah merindukan menu-menu seperti sate atau gulai. Bagi saya itu menu istimewa, tapi bukan menu nikmat.

Pilihan itu pun saya jalani sejak bocah. Saya selalu berbeda dari saudara-saudara yang lain. Bahkan ketika bergabung dengan Surabaya Post, saya sering dibawakan menu sendiri oleh ibu kantin, bila menu kantor berdaging.

Ketika seorang ulama menanyakan kenapa suka buah ketimbang nasi? "Karena buah tetap nikmat dan tidak ribet cari sambal", jawab saya, dan kenalan ulama itu tertawa mendengarnya, 

Atas "ketidaklumrahan" ini, saya berkonsultasi dengan kaum yang lebih dekat dengan-Nya, para ulama. 

Dari para ulama itu, saya temukan jawaban. Di sinilah letak sebuah keberkahan yang agung: kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan uang, melainkan hadiah istimewa dari Allah Swt.

Keberkahan di Balik Kesederhanaan
Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sering terpaku pada kemewahan. Makanan dianggap lezat hanya jika bahannya mahal, penyajiannya mewah, dan tempatnya berkelas.

Padahal, dalam Islam, makna keberkahan (barakah) sangat berbeda. Keberkahan adalah hadirnya kebaikan yang melimpah pada sesuatu yang tampak kecil atau sedikit, serta adanya rasa cukup dan kenikmatan di dalamnya.

Ketika semangkuk sayur bening dan sambal terasa begitu nikmat, itu adalah salah satu tanda keberkahan yang paling nyata. 

Bahkan, kenikmatan itu bisa jadi adalah doa yang dikabulkan tanpa kita sadari, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah:
"Allahumma barik lana fi ma razaqtana" (Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang Engkau berikan).


Mengapa Makanan Sederhana Bisa Terasa Begitu Nikmat?
Ada beberapa hikmah mendalam yang membuat hidangan sederhana terasa begitu istimewa:

1. Karena Hadirnya Rasa Syukur
Rasa nikmat yang muncul bukanlah karena banyaknya bumbu, melainkan karena hati yang menerima apa adanya. 

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah meridai seorang hamba yang memakan makanan lalu memuji-Nya (setelah makan)." 

Rasa nikmat yang kita rasakan adalah imbalan langsung dari sikap syukur tersebut. Lidah menikmati, dan hati pun turut memuji.

2. Karena Tubuh Mendapat Kesehatan dan Keselamatan
Makanan sederhana umumnya tidak diolah dengan minyak berlebihan atau bahan pengawet. Tubuh kita merasa ringan dan sehat setelah menyantapnya. 

Kesehatan itu sendiri adalah bagian dari berkah yang sering kali tidak kita sadari. Makan dengan tidak berlebihan menjaga fitrah tubuh, dan itulah kenikmatan hakiki.

3. Karena Berkah Kebersamaan (Meski Hanya Diri Sendiri)
Jika makanan sederhana itu dimakan bersama keluarga atau orang-orang terkasih, keberkahannya tentu berlipat ganda. 

Nabi Muhammad Saw. sangat menganjurkan makan bersama, karena dalam kebersamaan itu terdapat barakah. 

Namun, meski menyantapnya sendirian, kesadaran bahwa kita masih diberi makanan oleh Allah sudah cukup untuk mengubah momen sederhana menjadi momen sakral.

4. Karena Kesadaran Akan Kekuasaan Allah
Renungkanlah sejenak: sambal terbuat dari cabai yang pedas, garam yang asin, dan terasi yang gurih. Semuanya adalah ciptaan Allah dari alam semesta. 

Ketika lidah kita merasakan nikmatnya, itu adalah tanda bahwa Allah sedang membukakan pintu kesenangan lewat hal-hal kecil. 

Ini adalah pengingat bahwa segala kenikmatan adalah titipan dari-Nya.

Nikmat yang Tak Ternilai
Maka, jangan pernah meremehkan makanan sederhana. 

Jika hari ini kita menyantap nasi dengan lauk seadanya dan merasakan kenikmatan yang begitu dalam, sadarilah bahwa itu adalah "kelezatan khusus" dari Allah. 

Itu adalah bukti bahwa iman kita sedang bersinar dan hati kita bersih dari penyakit sombong serta keluh kesah.

Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik dalam hal ini. Meski terkadang hanya makan dengan kurma dan air, atau bahkan menggabungkan dua biji kurma dalam satu waktu karena ketersediaan yang terbatas (sebagaimana dalam hadis sahih), beliau selalu memuji Allah. 

Beliau mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukanlah terletak pada banyaknya makanan, melainkan pada rasa syukur dan qana'ah (rasa cukup).

Jadi, ketika merasakan nikmatnya sambal dan nasi hangat, ucapkan dalam hati: "Alhamdulillah." 

Karena dengan satu ucapan itu, makanan sederhana pun bisa menjadi ladang pahala dan penanda kebahagiaan hakiki.

Semoga Allah selalu menganugerahkan keberkahan pada rezeki kita, menjadikan hati kita sehat, dan memperkuat iman kita melalui kenikmatan-kenikmatan kecil yang Dia berikan.

Selasa, 25 Agustus 2026

Berdiam di Sekitar Beras, Pengungsi NTT Memilih Lapar Daripada Menjarah


RASA1JIWA - Nusa Tenggara Timur—bagi sebagian orang di ibu kota, mungkin hanya nama di peta.

Titik merah rawan bencana. Deretan berita duka.

Jauh dari gemerlap. Jauh dari akses cepat.

Namun justru di kejauhan itulah, kita menemukan cermin kepribadian yang membuat ibu kota terpaku.

Bukan karena gempa yang mengguncang.

Tetapi karena genggaman moral yang tak goyah meski tanah bergoyang.


FAKTA MENGGUGAH
Bayangkan pemandangan ini.

Ratusan pengungsi kehilangan rumah, keluarga, dan seluruh harta.

Mereka terpaksa mengungsi di antaranya di area sekitar Gudang Bulog.

Di tenda darurat. Di terpal seadanya. Di emperan bangunan yang masih berdiri.

Di dalam gudang yang roboh itu, bertumpuk karung-karung beras.

Ribuan ton. Cukup untuk menghidupi mereka berbulan-bulan.

Anak-anak menangis lapar.

Ibu-ibu menahan perih di dada.

Bapak-bapak menatap langit-langit gudang dengan mata kosong.

Jarak mereka dengan tumpukan bahan makanan itu hanya beberapa puluh meter.

Saat ini, jarak itu terasa lebih jauh dari Jakarta ke Kupang.

Namun, tidak satu karung pun disobek.

Tidak satu butir pun diambil tanpa hak.


PILIHAN MEREKA
Para pengungsi itu memilih berdiam di sekitar tumpukan kemakmuran yang semu.

Sementara perut mereka berteriak.

Mereka memilih menggigil di malam dingin.

Sementara di depan mata ada selimut-selimut bantuan logistik yang belum waktunya dibagikan.

Bukan karena takut hukum—polisi dan aparat pun sibuk menolong.

Tetapi karena hukum yang lebih tinggi hidup di dada mereka.

"Ini bukan milikku. Aku akan menunggu giliran."

Mereka tidak masuk ke dalam gudang.

Mereka menjaga pintu gudang tetap tertutup untuk tangan-tangan yang tak terundang.

Termasuk tangan mereka sendiri.

Mereka memilih lapar daripada menjarah.


IRONI YANG INDAH
Ada ironi yang indah di sini.

Di kota-kota besar, seringkali kita saksikan antrean bantuan berubah jadi huru-hara.

Rasa "aku paling berhak" mengalahkan rasa "kita semua saudara".

Tapi di NTT—yang sering disebut terisolir, tertinggal, miskin infrastruktur—justru lahir kekayaan moral yang tak terbantahkan.

APA YANG MEMBUAT MEREKA TEGUH?
Pertama, budaya harga diri.

Bukan gengsi semata, tetapi menjaga nama baik keluarga dan kampung.

Menjarah berarti menghina leluhur mereka sendiri.

Masuk ke gudang tanpa izin adalah aib yang tak terhapuskan.

Kedua, keteladanan tetua adat.

Para pemimpin lokal dengan lantang mengingatkan:

"Kita lapar sama-sama, tetapi kita mulia sama-sama. Beras ini milik semua, maka tunggu giliran dari yang berhak membagi. Berdiamlah di luar, bukan di dalam."

Ketiga, iman yang tidak sekadar ritual.

Bagi mayoritas masyarakat NTT, bencana adalah ujian dari Tuhan.

Dan ujian tidak dihadapi dengan curang, tetapi dengan kesabaran.

Masuk ke gudang tanpa hak sama dengan gagal dalam ujian.

JIKA NTT MAMPU, MENGAPA KITA TIDAK? 
Mereka yang jauh dari pusat kekuasaan, jauh dari gemerlap ekonomi, justru mengajarkan satu hal.

Kepribadian luhur tidak memerlukan fasilitas. Ia hanya memerlukan kesadaran.

Saat berita tentang pengungsi yang berdiam di sekitar Bulog itu menyebar, banyak netizen dari Jakarta, Surabaya, dan Medan menangis haru.

Bukan karena gempa NTT lebih dahsyat dari yang lain.

Tetapi karena hati NTT lebih kokoh dari bangunan mana pun.

MEREKA BISA SAJA
Mereka bisa saja menerobos.

Mereka bisa saja mengambil.

Tapi mereka memilih untuk berdiam di luar.

Menunggu. Percaya bahwa keadilan akan datang.

Mereka menjaga gudang itu—bukan untuk negara, tetapi untuk semua.

Mereka memilih lapar daripada menjarah.

SURAT DARI NTT UNTUK INDONESIA

"Kami memang jauh dari Ibukota.

Tapi kejauhan ini mengajarkan kami: kejujuran tidak perlu ramai, kesabaran tidak perlu panggung.

Kami tidak tinggal di dalam gudang.

Kami berdiam di sekitarnya—menjaga pintunya, menjaga kehormatan, menjaga rasa malu.

Di sinilah—di tengah puing dan debu—kami buktikan bahwa kepribadian luhur tidak diukur dari dekatnya akses, tetapi dari teguhnya hati memilih benar."

PENUTUP
Mari jadikan contoh ini sebagai narasi kebangkitan.

Bukan hanya membangun kembali NTT secara fisik, tetapi juga memperkuat karakter bangsa.

Karena jika saudara-saudara kita di ujung timur bisa berdiam di sekitar tumpukan beras tanpa mengambilnya, memilih lapar daripada menjarah...

Maka kita yang di pusat pun seharusnya lebih mudah untuk saling berbagi, saling percaya, dan saling menjaga.

NTT tidak luntur di ujung rasa.

NTT justru mengajar dari ujung sana.

Bahwa martabat tidak butuh gelar.

Hanya butuh keteguhan.



Salat Sehat Lansia: Gerakan Ibadah, Rahasia Jaga Kebugaran di Usia Senja

 
Sosok sepuh di masjid Asasul A'mal Medokan Asri Utara. Foto : Harsono PG

RASA1JIWA"Rasakan dahsyatnya 5 waktu salat sebagai 'obat' alami untuk tulang, sendi, dan vitalitas di usia emas!"

Uraian ini merupakan pengembangan dari gagasan sebelumnya dengan judul "Salat: Kebutuhan Jiwa dan Gerak Badan di Era Digital". Fokus utamanya adalah pada kelompok usia lanjut.

Mengapa Salat Menjadi Kunci Kesehatan bagi Lansia?

Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami penurunan fungsi secara alami.

Namun, tahukah Anda bahwa gerakan salat yang rutin dan benar setara dengan latihan fisik ringan?

Penelitian pun membuktikan hal ini mampu memperlambat proses penuaan.

Bayangkan, dalam sehari ada 5 kesempatan emas untuk menjaga kemandirian tubuh.
Semua itu tanpa perlu pergi ke pusat kebugaran atau menggunakan alat khusus.



๐ŸŒฟ Manfaat Ilmiah Gerakan Salat untuk Kesehatan Lansia

1. Melenturkan Sendi dan Menguatkan Tulang
Penelitian menunjukkan bahwa latihan gerakan salat selama 2–4 minggu meningkatkan fleksibilitas sendi lansia usia 60–75 tahun.

Gerakan ruku' dan sujud berperan sebagai peregangan dinamis.

Ini membantu menjaga elastisitas otot dan ligamen secara alami.

2. Mencegah Nyeri Punggung dan Risiko Jatuh

Ruku' dan sujud meregangkan otot punggung bawah, paha, dan betis.
Ketiga area ini sering menjadi sumber nyeri pada lansia.

Gerakan berdiri, ruku', dan sujud juga melatih keseimbangan tubuh, sehingga risiko jatuh pun berkurang.

3. Terapi Rehabilitasi yang Aman
Durasi gerakan salat singkat dan risiko cederanya minimal.

Karena itu, salat direkomendasikan sebagai terapi pendukung bagi lansia dengan keterbatasan fisik, termasuk pascastroke.

Ini adalah latihan fungsional yang mudah diakses dan sarat makna spiritual.


Manfaat untuk Semua Usia

· Anak dan dewasa muda: membangun postur ideal dan melatih otot inti sejak dini.

· Dewasa (30–50 tahun): melancarkan sirkulasi darah, menstabilkan gula & lemak darah, serta meredakan ketegangan otot akibat rutinitas padat.

๐Ÿ“Œ Pesan Utama
"Salat 5 waktu bukan sekadar kewajiban agama, melainkan investasi kesehatan seumur hidup."

Kuncinya ada pada konsistensi (5 waktu setiap hari) dan ketepatan gerakan (sesuai tuntunan).

Saat tubuh sehat, semangat ibadah pun makin kokoh.

Karena manfaatnya terasa nyata, salat tidak lagi terasa berat.

๐Ÿ’ก Tips Praktis untuk Lansia

1. Lakukan setiap gerakan secara perlahan dan terukur.

2. Jika sulit berdiri, salat boleh dilakukan sambil duduk atau berbaring.

3. Bagi yang memiliki kondisi medis tertentu, konsultasikan dulu dengan dokter.

Mari jadikan setiap sujud sebagai terapi, setiap ruku' sebagai peregangan, dan setiap salat sebagai hadiah untuk jiwa dan raga! ๐ŸŒŸ

Oleh : Priono Subardan

```

Sabtu, 22 Agustus 2026

Salat di Era Digital: Ketika Ruku' Melatih Otot Penegak Punggung


RASA1JIWA - Pernah merasa punggung bawah seperti ditusuk-tusuk setelah seharian duduk di depan laptop? Anda tidak sendiri.

Ini erat kaitannya dengan Otot Erektor Spinae yang disebutkan pada tulisan berjudul "Salat: Kebutuhan Jiwa dan Gerak Badan di Era Digital".

Era digital memang memudahkan pekerjaan, tapi diam-diam menghancurkan postur tubuh kita. 

Rata-rata pekerja kantoran duduk 8–10 jam sehari, tanpa sadar membuat otot punggung melemah dan tegang. 

Hal itu membuahkan Nyeri punggung bawah (low back pain) menjadi keluhan nomor satu di dunia kerja era digital.

Lalu, bagaimana solusinya?
Mungkin jawabannya sudah dilakukan lima kali sehari, tapi selama ini terlewat begitu saja tanpa disadari. Ya, gerakan ruku' dan i'tidal dalam salat.

Di balik ketenangan hati yang dicari, ada otot panjang bernama erektor spinae yang justru bekerja keras menegakkan tubuh kita. 

Inilah saatnya mengungkap rahasia kesehatan di balik gerakan salat yang sering dianggap biasa.

Apa Itu Otot Erektor Spinae?
Secara sederhana, erektor spinae adalah "otot penegak punggung". Ia adalah sekumpulan otot panjang yang membentang di sepanjang tulang belakang—dari leher hingga pinggul.

Fungsi utamanya:
· Menegakkan punggung saat berdiri dan duduk.

· Meluruskan tulang belakang setelah membungkuk.

· Menjaga stabilitas postur tubuh agar tetap seimbang.

Otot ini seperti tali penyangga yang terus bekerja setiap saat, bahkan saat diam sekalipun. 

Tanpa erektor spinae yang kuat, tubuh kita akan mudah membungkuk dan cepat lelah.

Bagaimana Salat Melatih Otot Ini?
Dalam gerakan salat, ada dua momen di mana otot erektor spinae bekerja paling aktif:

1. Saat Ruku'
Ketika membungkuk dengan punggung rata dan kepala sejajar dengan punggung, otot erektor spinae berkontraksi secara isometrik—artinya otot menahan punggung tetap lurus dan stabil tanpa mengubah panjang otot. Ini seperti latihan plank versi ibadah!

2. Saat I'tidal (Bangun dari Ruku')
Inilah momen paling berat bagi otot penegak punggung. 

Saat tubuh diangkat kembali ke posisi tegak, erektor spinae bekerja keras mengangkat batang tubuh melawan gravitasi. 

Gerakan ini melatih kekuatan dan daya tahan otot secara alami.

Kunci Manfaat Maksimal: Tuma'ninah
Namun, semua manfaat ini hanya akan terasa jika gerakan dilakukan dengan tuma'ninah—lambat, tenang, dan penuh kesadaran.

Bukan sekadar syarat sah salat, tuma'ninah adalah kunci terapi fisik. Saat ruku' dilakukan perlahan:

· Otot erektor spinae mendapat peregangan optimal.
· Aliran darah ke area punggung menjadi lebih lancar.
· Sendi tulang belakang mendapat ruang gerak yang sehat.

Bayangkan seperti stretching pagi yang dilakukan 17 kali sehari—gratis, tanpa alat, dan berpahala!

Relevansi di Era Digital

Sekarang bandingkan dengan gaya hidup modern. Duduk terlalu lama menyebabkan:

· Otot erektor spinae melemah karena jarang digunakan secara aktif.
· Punggung bawah kaku dan tegang.
· Postur tubuh memburuk (bahu membungkuk, kepala maju ke depan).

Pun demikian, ada pengimbang sempurna, yakni salat. Setiap rakaat adalah gerakan kompensasi yang melawan efek buruk duduk berkepanjangan. Ruku' meregangkan otot yang kaku, i'tidal menguatkan otot yang lemah.

Tips Mendapatkan Manfaat Maksimal

1. Lakukan ruku' dengan tuma'ninah — jangan terburu-buru. Rasakan peregangan di sepanjang punggung.
2. Jaga punggung tetap rata saat ruku', jangan melengkung atau membulat.
3. Bangun dari ruku' dengan sadar — rasakan otot punggung mengangkat tubuh Anda secara perlahan.
4. Perbaiki posisi duduk di luar salat, agar manfaat salat tidak sia-sia.

PESAN UTAMA
Ibadah yang Menyehatkan. Salat bukan hanya kebutuhan jiwa, tapi juga gerak badan yang terstruktur, ilmiah, dan menyeluruh. 

Di balik ketundukan kepada Tuhan, ada juga penghormatan kepada tubuh yang Dia berikan.

Jadi, mulai sekarang, jangan anggap remeh setiap ruku' dan i'tidal. Di dalamnya tersimpan latihan fisik yang bisa menyelamatkan punggung dari ancaman era digital.

"Dan dirikanlah salat, sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-'Ankabut: 45)

—salah satu bentuk keji yang dicegah adalah menyakiti tubuh sendiri dengan postur buruk. ๐Ÿ’™

Oleh : Priono Subardan 


Manfaat Salat bagi Jantung, Otot, dan Relaksasi Mental


RASA1JIWA - Kardiovaskular dan Kekuatan Otot yang diuraikan pada tulisan "Salat: Kebutuhan Jiwa dan Gerak Badan di Era Digital", antara lain sebagai berikut.

· Kardiovaskular = Kesehatan yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah.

Manfaatnya didapat dari gerakan salat yang melancarkan sirkulasi darah serta memberi efek positif pada tekanan darah dan denyut jantung.

· Kekuatan otot = Kemampuan otot untuk menahan beban atau melakukan kontraksi.

Gerakan salat melibatkan banyak otot (bisep, trisep, paha, betis) sehingga melatih kekuatan, meski dalam kategori aktivitas fisik ringan.

· Fleksibilitas & keseimbangan = Gerakan rukuk, sujud, dan duduk melatih peregangan otot punggung, bahu, serta sendi, plus menjaga keseimbangan tubuh saat berpindah posisi.

· Efek relaksasi = Irama gerakan dan bacaan salat terbukti menurunkan hormon stres (kortisol), yang secara tidak langsung mendukung kesehatan jantung.

PESAN UTAMA
Salat = aktivitas fisik ringan-sedang dengan manfaat holistik (fisik + mm1ental). 

Namun untuk mencapai kebugaran kardio dan hipertrofi otot, tetap perlu olahraga tambahan minimal 150 menit/minggu intensitas sedang atau 75 menit/minggu intensitas berat.

Oleh : Priono Subardan


Salat: Kebutuhan Jiwa dan Gerak Badan di Era Digital


RASA1JIWA - Dunia saat ini haus akan gerakan, dan salat (sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia) —tanpa disadari—telah menyediakannya lima kali sehari.

Demikian kesimpulan kaitan gerakan salat di erat digital, seperti saat ini, yang dirangkum dari beragam sumber dan referensi wawancara dengan Ustadz Syamsudin, yang direkaman nya tersaji dalam berita ini.

Di tengah gaya hidup yang semakin sedentari (kurang gerak), sementara tubuh manusia terus membutuhkan aktivitas fisik rutin untuk bertahan sehat. 

Gerakan salat bukan sekadar simbol ketundukan. Ia adalah serangkaian postur tubuh terstruktur yang melibatkan hampir seluruh sistem muskuloskeletal

Dari berdiri tegak (qiyam), membungkuk (ruku'), sujud, hingga duduk (tahiyat)—semuanya adalah gerakan fungsional yang melatih keseimbangan, fleksibilitas sendi, dan kekuatan otot penopang tubuh. 

Inilah mengapa salat bisa disebut sebagai "kebutuhan gerak" harian manusia, bukan sekadar tambahan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan aktivitas fisik ringan-sedang selama minimal 150 menit per minggu. 

Jika dihitung, 5 waktu salat dengan durasi rata-rata 5–7 menit per rakaat (total 17 rakaat sehari) sudah menyumbang sekitar 35–40 menit aktivitas fisik terstruktur per hari. 

Itu lebih dari cukup untuk menjaga sirkulasi darah tetap lancar dan metabolisme tubuh tetap aktif.

Manfaat gerakan salat yang telah teridentifikasi secara ilmiah antara lain: melancarkan aliran darah ke otak saat sujud, meningkatkan konsentrasi dan ketenangan saraf; mengurangi ketegangan otot punggung bawah akibat posisi duduk berkepanjangan; 

Gerakan salat juga memperbaiki postur tubuh melalui gerakan membungkuk dan menegak secara berulang; serta mengaktifkan otot-otot kecil di sekitar persendian, yang sering terabaikan dalam olahraga konvensional.

Kunci dari manfaat kesehatan ini bukanlah jumlah rakaat, melainkan tuma'ninah—ketenangan dalam setiap gerakan. 

Sebagaimana uraian Ustadz Syamsudin dari Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya:

(Dengan catatan HP memiliki aplikadi pemutar Audio)

Ketika ruku' dilakukan dengan lambat dan tulang punggung lurus, otot-otot erektor spinae bekerja optimal. 

Saat sujud dilakukan dengan tenang dan dahi menempel lantai, sirkulasi darah ke area kepala dan wajah meningkat. 

Inilah bentuk gerakan sadar (mindful movement) yang kini menjadi tren dalam dunia kebugaran global. 

Maka, salat bukan pengganti olahraga, tetapi fondasi gerak harian yang menjaga tubuh tetap aktif di sela-sela kesibukan. 

Ia adalah kebutuhan dasar, seperti makan dan minum—hanya saja dalam dimensi fisik dan spiritual sekaligus.

Namun, untuk mencapai kebugaran kardiovaskular yang optimal—seperti daya tahan jantung dan kekuatan otot maksimal—tubuh tetap membutuhkan olahraga terstruktur seperti berjalan cepat, bersepeda, atau renang. 

Salat menyiapkan "panggung" kesehatan, olahraga menyempurnakannya. 

Jadi, salat sebagai kebutuhan gerak pertama dan utama bagi tubuh. Jangan pernah lewatkan salat dengan alasan tidak sempat berolahraga. 

Dengan salat, sejatinya  sudah bergerak. Dan dengan olahraga, menjadikan tubuh lebih tangguh untuk beribadah lebih lama dan lebih khusyuk.

Salat adalah ibadah yang sekaligus menjadi jawaban atas kebutuhan gerak tubuh di zaman yang serba diam. Maka, bergeraklah karena Allah, dan rasakan sehat sebagai karunia-Nya.




Kamis, 13 Agustus 2026

Mengalir dari Kesulitan: Kunci Ketenangan ala Rasa1Jiwa


RASA1JIWA - Memaknai kesulitan seperti air mengalir adalah kunci ketenangan hidup. Air tidak pernah menolak halangan; ia meresap, memutar, atau mengikis batu perlahan. Ia tidak melawan, namun juga tak pernah berhenti. Inilah esensi kelenturan hati yang sesungguhnya.

Artikel ini merupakan penegasan dari pengalaman pribadi dalam tulisan "Filosofi Air: Seni Menjinakkan Kegarangan dengan Kelenturan Hati"—sebuah refleksi bahwa hidup bukan tentang menghindari badai, melainkan belajar mengalir di dalamnya.

Apalagi kini tekanan ekonomi kian terasa, menurunnya omzet kerap dinilai sebagai kemunduran. Sementara, beban pajak yang tetap, dinilai sebagai tekanan.

Namun justru di sanalah filosofi air diuji: apakah kita akan berhenti dan menggenang, atau terus mencari celah untuk mengalir? 

Kesulitan bukanlah tanda bahwa kita salah melangkah, melainkan tanda bahwa kita sedang diproses untuk menjadi lebih lentur dan tangguh.


Hakikat Kelenturan
Sebagaimana praktiknya, air tidak pernah memaksa bebatuan untuk pindah. Ia cukup mengalir, dan waktu serta konsistensi-lah yang membuatnya mampu membentuk ngarai. Setiap tetes adalah kesabaran, setiap aliran adalah ketekunan.

Kesulitan hari ini adalah proses pembentukan ngarai dalam jiwa kita—ruang baru yang tercipta dari gesekan dan tekanan—agar kelak bisa menampung lebih banyak kedamaian dan kebijaksanaan. 

Tanpa ngarai, sungai tak pernah besar. Tanpa kesulitan, jiwa tak pernah matang.


Membingkai Pikiran Kesulitan Terasa Lumrah

Berikut lima cara membingkai ulang kesulitan agar terasa lumrah dan bisa diterima dengan ikhlas:

1. Kesulitan adalah "Suhu Ruangan" Kehidupan

Bukan pengecualian, tapi aturan baku. Seperti tubuh yang butuh demam untuk melawan infeksi, jiwa butuh kesulitan untuk tumbuh. 

Kesulitan adalah tanda bahwa kita hidup, bukan tanda bahwa kita gagal. Jika hari ini sulit, itu artinya hidup sedang berjalan normal—dan kita sedang berada di jalur yang tepat untuk berkembang.

2. Ikhlas Bukan Pasrah, Tapi "Mengurangi Gesekan"

Banyak orang keliru menganggap ikhlas sebagai sikap pasif. Padahal, ikhlas adalah tindakan aktif untuk mengurangi perlawanan batin. 

Ikhlas adalah mengakui: "Ini skenario yang sedang terjadi. Kita tidak bisa mengubah angin, tapi saya bisa mengatur layar."

Seperti air yang masuk ke celah-celah batu, ikhlas adalah tindakan mencari jalan, bukan diam terhenti. Ia bergerak, beradaptasi, dan terus maju—tanpa membuang energi pada penyesalan.

3. Menilai sebagai Kehendak-Nya = Melepas Beban "Mengapa Saya"

Pertanyaan "Kenapa ini terjadi padaku?" adalah beban yang memenjarakan. Gantilah dengan: "Apa yang mau diajarkan dari skenario ini?" Ini mengubah posisi kita dari korban menjadi murid, dari yang terpukul menjadi yang belajar.

Ketika kita melihat setiap peristiwa sebagai bagian dari skenario yang lebih besar yang telah ditetapkan, kita melepas amarah dan menemukan makna. Kita tidak lagi bertanya mengapa air harus membatu, tapi bagaimana kita bisa mengalir melewatinya.

4. Hikmah adalah "Endapan" yang Tertinggal

Saat air banjir surut, ia meninggalkan lumpur subur yang menyuburkan tanah. Demikian pula kesulitan, setelah reda, ia meninggalkan:

· Empati — pemahaman mendalam akan rasa sakit orang lain, karena kita pernah merasakannya.
· Kewaspadaan — kemampuan membedakan mana yang esensial dan mana yang sementara.
· Kekuatan diam — ketenangan batin yang tidak mudah goyah oleh omong kosong dunia.

Hikmah tidak selalu terlihat saat ombak masih tinggi. Tetapi setelah surut, ia selalu ada—sebagai tanah baru yang lebih subur untuk kehidupan yang lebih bijak.

5. Latihan Harian "Seperti Air"

Praktik sederhana setiap hari ini mengajak kita memaknai kesulitan sebagai proses alami yang membentuk ketahanan jiwa, bukan sebagai musuh yang harus dilawan. Ulangi pelan-pelan, dan rasakan perubahan cara pandang:

· Saat cemas, ucapkan dalam hati: "Ini hanya sedang mengalir deras, akan tenang nanti."
· Saat kecewa, ucapkan: "Air tak menangis karena terciprat, ia terus mengalir."
· Saat marah, ucapkan: "Batu pun terkikis oleh air yang sabar; aku pun bisa."
· Setiap malam, tanyakan pada diri: "Apa satu hal kecil yang hari ini mengajari saya untuk lebih lentur?"


Pesan Utama: Mengalir, Bukan Melawan
Hidup bukan tentang seberapa keras kita menahan ombak, tapi seberapa luwes kita mengalir di atasnya. 

Ketika kita memaknai kesulitan seperti air mengalir, kita belajar bahwa hambatan bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan itu sendiri.

Ketenangan sejati tidak datang dari hidup tanpa masalah, tetapi dari kemampuan menjadikan setiap masalah sebagai aliran yang membawa kita ke tempat yang lebih dalam, lebih tenang, dan lebih bijak.

Seperti air—terus mengalir, terus belajar, dan pada akhirnya, menjadi samudra yang teduh.

"Jadilah seperti air yang mengalir. Diam saat tenang, kuat saat deras, dan selalu menemukan jalan pulang ke lautan."

Oleh: Priono Subardan
Praktisi & Pembuat Konten di:
๐Ÿพ k9Dewa – Pahami Anjing
๐Ÿพ k9fit – Anjing Selalu Fit
๐Ÿงก Rasa1Jiwa – Kita semua se-rasa satu jiwa

Artikel ini adalah bagian dari program #EdisiBerbagi.




Filosofi Air: Seni Menjinakkan Kegarangan dengan Kelenturan Hati


RASA1JIWA - Dalam hiruk-pikuk kehidupan, kesulitan kerap hadir menjelma seperti sosok yang mengintimidasi—besar, buas, dan siap menerkam kapan saja.

Bahkan, untuk menghadapi anjing besar seperti German Shepherd (Herder) yang liar dan galak sekalipun, pendekatan ini terbukti ampuh. 

Filosofi air, yang sering kita dengar sebagai kiasan, ternyata menyimpan resep praktis untuk mengurai kompleksitas masalah menjadi hal yang lumrah.

Uraian ini bukanlah sekadar teori, melainkan bertolak dari pengalaman pribadi yang kemudian saya petakan menjadi prinsip universal. 

Apa yang berlaku dalam menjinakkan seekor herder, ternyata sama relevannya ketika kita berhadapan dengan konflik, tekanan pekerjaan, atau hubungan antarmanusia. 

Inti dari semua itu adalah kemampuan kita untuk tidak terbawa arus keras, tetapi menjadi arus itu sendiri.

Namun, di balik setiap tantangan yang tampak menggertak, tersembunyi sebuah pelajaran berharga: bahwa kekuatan sejati tidak selalu lahir dari perlawanan, melainkan dari kemampuan untuk mengalir.

Ketika Keteguhan Beralih Menjadi Kelenturan

Banyak orang keliru mengartikan "menjinakkan" sebagai upaya menaklukkan. Padahal, pendekatan yang paling efektif justru adalah menyelaraskan energi—seperti air yang tidak pernah memaksakan diri, namun pada akhirnya selalu menemukan jalur menuju samudra. 

Dalam konteks berinteraksi dengan herder, samudra itu adalah kepercayaan. Kepercayaan tidak bisa direbut; ia hanya bisa diundang.

Yang perlu kita yakini adalah prinsip dasar air: air yang mengalir di sungai keruh tetaplah air. Ia tidak berubah menjadi lumpur hanya karena melewati lumpur. 

Demikian pula dengan kita; menghadapi kemarahan atau kecurigaan bukan berarti kita harus menjadi marah atau curiga. 

Kita tetap bisa mempertahankan esensi ketenangan, meski berada di tengah badai.

Jika kita memilih bersikap kaku seperti batu—memaksa, melawan, atau menunjukkan dominasi—maka si herder justru akan semakin defensif. 

Hal itu ditandai matanya yang menyorot tajam, tubuhnya menegang, dan setiap gerak-gerik kita akan dibaca sebagai ancaman yang siap dilawan. 

Namun, ketika kita memilih "mengalir", dinamika itu berubah. Air tidak pernah bertabrakan dengan bebatuan; ia merayap, menyusup, dan pada waktunya mengikis apa yang keras.

Tiga Gerak Air dalam Membangun Kepercayaan

Pengalaman lapangan mengajarkan bahwa ada tiga sikap konkret yang dapat kita tiru dari sifat air:

Meresap: Membaca Tanpa Menghakimi

Sebelum bertindak, kita belajar membaca bahasa tubuh. Kita mendekat bukan dari depan (yang terkesan konfrontatif), melainkan dari samping—memberi ruang agar ia terbiasa dengan kehadiran kita. 

Kesabaran di sini adalah kunci. Kita menyerap informasi dari gerak ekor, telinga, hingga helaan napasnya. Dengan begitu, kita tidak datang sebagai pengganggu, melainkan sebagai bagian dari lingkungannya.

Memutar: Menemukan Celah di Tengah Kebuntuan

Air tidak pernah memaksakan diri menembus tembok; ia berputar mencari jalan lain. 

Dalam interaksi dengan herder, kita tidak memaksakan kontak mata atau sentuhan langsung. 

Lebih baik kita mencari pintu masuk lain—mengajaknya bermain dari jarak aman, atau sekadar melemparkan camilan sebagai isyarat niat baik. 

Ada kalanya, cara terbaik untuk meraih hati bukan dengan langkah maju, melainkan dengan mundur selangkah untuk menciptakan rasa aman.

Mengikis Perlahan: Konsistensi yang Melumat Ketakutan

Harus diakui, kepercayaan tidak bisa dibangun dalam sekejap; ia adalah hasil dari ritual kecil yang diulang setiap hari. 

Kita datang di waktu yang sama, berbicara dengan nada rendah dan menenangkan, lalu membiarkan inisiatif datang darinya. 

Tak dapat dipungkiri, lama-kelamaan, tembok kewaspadaan yang kokoh akan tergerus—bukan oleh palu, tetapi oleh sentuhan lembut yang hadir tanpa henti. 

Hingga suatu hari, herder itu sendiri yang mendekat, mengendus tangan kita, dan menaruh kepalanya di pangkuan kita. Itulah momen ketika energi kita selaras.

Pesan Utama: Mengalirlah, Maka Kesulitan Akan Menemukan Jalannya

Pada akhirnya, filosofi air mengajarkan bahwa menghadapi kegarangan—baik itu seekor anjing penjaga, konflik batin, atau kesulitan hidup—tidak memerlukan kekuatan fisik atau arogansi. 

Justru yang diperlukan adalah kesediaan untuk menyesuaikan diri, konsistensi tanpa pamrih, dan keyakinan bahwa setiap pertemuan dengan kegelapan hanya sementara. 

Sebagaimana air yang jernih kembali setelah melewati bebatuan, kita pun bisa mempertahankan esensi diri kita di tengah situasi yang paling keruh sekalipun.

Pada akhirnya, air tidak pernah kalah. Ia mengukir ngarai, melembutkan batu karang, dan mengaliri seluruh penjuru bumi—tanpa pernah kehilangan dirinya. Maka, jadilah air.

Oleh: Priono Subardan
Praktisi & Pembuat Konten di:
๐Ÿพ k9Dewa – Pahami Anjing
๐Ÿพ k9fit – Anjing Selalu Fit
๐Ÿงก Rasa1Jiwa – Kita semua se-rasa satu jiwa

Artikel ini adalah bagian dari program #EdisiBerbagi.


Rabu, 12 Agustus 2026

Waktu adalah Bumbu Paling Setia

Ilustrasi


Hidup Bukan Perlombaan, Melainkan Perebusan


RASA1JIWA - Pernahkah merasa tertinggal? Melihat teman seangkatan sudah naik jabatan, bisnis orang lain melesat, sementara kita masih di titik yang sama—lalu panik, lalu memacu diri terlalu keras, lalu kelelahan?

Malam itu, di sebuah hotel bintang lima di Surabaya, saya mendengar sebuah pepatah dari seorang koki besar dari hotel itu, yang mengubah cara pandang saya tentang waktu:

"Masak dengan api besar tak selalu mempercepat."

Kalimat sederhana, tapi menusuk sadar. Sang koki—yang meminta namanya tidak disebutkan—mengajak saya merenung: bahwa hidup bukan perlombaan, melainkan perebusan. Dan yang matang sempurna adalah yang berani mengecilkan api, menikmati gelembung-gelembung kecil perubahan, dan percaya bahwa waktu adalah bumbu paling setia.

Kedalaman vs Kecepatan
"Api besar membuat luar matang, dalam mentah," ujar sang koki.

Ia memberi analogi menggugah: daging yang dimasak dengan suhu terlalu tinggi akan hangus di luar, tapi tetap merah dan keras di dalam. Begitu pula hidup. Karier yang instan, hubungan yang kilat, atau kesuksesan yang dipaksakan seringkali rapuh di fondasinya.

Pertumbuhan sejati butuh "panas yang merata"—waktu untuk meresapi pelajaran, membangun karakter, dan menyatu dengan nilai-nilai diri. Tidak ada jalan pintas menuju kedalaman.

Kesabaran sebagai Kekuatan
"Masakan terlezat biasanya pakai api kecil dan waktu lama," tegasnya lagi.

Siapa yang tidak kenal rawon atau rendang yang dimasak berjam-jam? Rasanya meresap hingga ke serat. 

Hidup juga demikian. Kesuksesan berkelanjutan lahir dari konsistensi pelan tapi pasti, bukan dari sprint yang menguras habis energi.

Api besar memang cepat, tapi ia juga cepat menghanguskan semangat. Sebaliknya, api kecil yang stabil justru menjaga semangat tetap menyala dalam jangka panjang.

Kendali atas Diri
Api besar mudah meluap dan gosong. Itulah simbol dari ambisi berlebihan yang merusak keseimbangan hidup.

Filosofi mengecilkan api mengajarkan kita satu hal penting: kecepatan tanpa kendali adalah bentuk kekacauan. Belajar mengecilkan api adalah belajar mengatur nafsu, mengelola ego, dan meluruskan ekspektasi agar tidak terlalu tinggi hingga membakar diri sendiri.

Penerimaan pada Waktu Alami
Setiap bahan makanan memiliki titik matangnya sendiri. Tidak semua sayur harus direbus selama daging. Tidak semua impian harus tercapai di usia yang sama.

Dalam hidup, ada musim tumbuh, ada musim menunggu, dan ada musim panen. Memaksa percepatan hanya akan membuat kita kehilangan kelezatan momen—seperti hubungan yang dipaksakan serius, atau karier yang dipaksakan naik, yang akhirnya terasa hambar karena dilewati dengan tergesa-gesa.

Menjadi Matang Sempurna
Pada akhir perbincangan, sang koki tersenyum dan mengucapkan kembali pesan yang menggema di kepala saya hingga sekarang:

"Hidup bukan perlombaan, melainkan perebusan. Yang matang sempurna adalah yang berani kecilkan api, nikmati gelembung-gelembung kecil perubahan, dan percaya bahwa waktu adalah bumbu paling setia."

Maka, jika hari ini merasa lambat, ingatlah: kita sedang dimasak dengan sempurna. Bukan terlambat, hanya sedang meresap. Biarkan waktu bekerja. Waktu adalah bumbu yang tidak pernah mengkhianati proses.

Oleh: Priono Subardan | Admin




7 Panduan Penting Membersihkan dan Berlindung dari Abu Vulkanik Anak Krakatau

RASA1JIWA – Berdasarkan data resmi dari BMKG dan PVMBG, abu vulkanik Anak Krakatau tidak dilaporkan mencapai Jawa Timur pada periode erupsi...