RASA11JIWA - Pernahkah kita duduk di meja makan dengan sepiring nasi hangat, sepotong telur dadar, dan sambal terasi yang menggoda? Lalu tiba-tiba merasa bahwa hidangan itu terasa begitu istimewa?
Rasanya bukan sekadar mengenyangkan, tetapi juga membahagiakan. Seolah ada "bumbu rahasia" yang membuat lidah bergoyang dan hati turut bersyukur.
Jika kita pernah mengalaminya, itu adalah pertanda baik. Bukan sekadar selera makan yang sedang bagus, melainkan sebuah isyarat bahwa iman dan hati kita dalam keadaan sehat.
Pemahaman itu saya dapatkan dari beberapa ulama terkait pengalaman pribadi. Malah, sehari-hari, saya lebih terbiasa makan buah dan sayur yang terasa sangat nikmat.
Ada kalanya saya pingin nasi. Cukup dengan sambal dan menu ikan "klotok" olahan teman, sangat mengangenkan. Begitu istimewanya yang saya dapatkan.
Saya tidak pernah merindukan menu-menu seperti sate atau gulai. Bagi saya itu menu istimewa, tapi bukan menu nikmat.
Pilihan itu pun saya jalani sejak bocah. Saya selalu berbeda dari saudara-saudara yang lain. Bahkan ketika bergabung dengan Surabaya Post, saya sering dibawakan menu sendiri oleh ibu kantin, bila menu kantor berdaging.
Ketika seorang ulama menanyakan kenapa suka buah ketimbang nasi? "Karena buah tetap nikmat dan tidak ribet cari sambal", jawab saya, dan kenalan ulama itu tertawa mendengarnya,
Atas "ketidaklumrahan" ini, saya berkonsultasi dengan kaum yang lebih dekat dengan-Nya, para ulama.
Dari para ulama itu, saya temukan jawaban. Di sinilah letak sebuah keberkahan yang agung: kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan uang, melainkan hadiah istimewa dari Allah Swt.
Keberkahan di Balik Kesederhanaan
Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sering terpaku pada kemewahan. Makanan dianggap lezat hanya jika bahannya mahal, penyajiannya mewah, dan tempatnya berkelas.
Padahal, dalam Islam, makna keberkahan (barakah) sangat berbeda. Keberkahan adalah hadirnya kebaikan yang melimpah pada sesuatu yang tampak kecil atau sedikit, serta adanya rasa cukup dan kenikmatan di dalamnya.
Ketika semangkuk sayur bening dan sambal terasa begitu nikmat, itu adalah salah satu tanda keberkahan yang paling nyata.
Bahkan, kenikmatan itu bisa jadi adalah doa yang dikabulkan tanpa kita sadari, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah:
"Allahumma barik lana fi ma razaqtana" (Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang Engkau berikan).
Mengapa Makanan Sederhana Bisa Terasa Begitu Nikmat?
Ada beberapa hikmah mendalam yang membuat hidangan sederhana terasa begitu istimewa:
1. Karena Hadirnya Rasa Syukur
Rasa nikmat yang muncul bukanlah karena banyaknya bumbu, melainkan karena hati yang menerima apa adanya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah meridai seorang hamba yang memakan makanan lalu memuji-Nya (setelah makan)."
Rasa nikmat yang kita rasakan adalah imbalan langsung dari sikap syukur tersebut. Lidah menikmati, dan hati pun turut memuji.
2. Karena Tubuh Mendapat Kesehatan dan Keselamatan
Makanan sederhana umumnya tidak diolah dengan minyak berlebihan atau bahan pengawet. Tubuh kita merasa ringan dan sehat setelah menyantapnya.
Kesehatan itu sendiri adalah bagian dari berkah yang sering kali tidak kita sadari. Makan dengan tidak berlebihan menjaga fitrah tubuh, dan itulah kenikmatan hakiki.
3. Karena Berkah Kebersamaan (Meski Hanya Diri Sendiri)
Jika makanan sederhana itu dimakan bersama keluarga atau orang-orang terkasih, keberkahannya tentu berlipat ganda.
Nabi Muhammad Saw. sangat menganjurkan makan bersama, karena dalam kebersamaan itu terdapat barakah.
Namun, meski menyantapnya sendirian, kesadaran bahwa kita masih diberi makanan oleh Allah sudah cukup untuk mengubah momen sederhana menjadi momen sakral.
4. Karena Kesadaran Akan Kekuasaan Allah
Renungkanlah sejenak: sambal terbuat dari cabai yang pedas, garam yang asin, dan terasi yang gurih. Semuanya adalah ciptaan Allah dari alam semesta.
Ketika lidah kita merasakan nikmatnya, itu adalah tanda bahwa Allah sedang membukakan pintu kesenangan lewat hal-hal kecil.
Ini adalah pengingat bahwa segala kenikmatan adalah titipan dari-Nya.
Nikmat yang Tak Ternilai
Maka, jangan pernah meremehkan makanan sederhana.
Jika hari ini kita menyantap nasi dengan lauk seadanya dan merasakan kenikmatan yang begitu dalam, sadarilah bahwa itu adalah "kelezatan khusus" dari Allah.
Itu adalah bukti bahwa iman kita sedang bersinar dan hati kita bersih dari penyakit sombong serta keluh kesah.
Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik dalam hal ini. Meski terkadang hanya makan dengan kurma dan air, atau bahkan menggabungkan dua biji kurma dalam satu waktu karena ketersediaan yang terbatas (sebagaimana dalam hadis sahih), beliau selalu memuji Allah.
Beliau mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukanlah terletak pada banyaknya makanan, melainkan pada rasa syukur dan qana'ah (rasa cukup).
Jadi, ketika merasakan nikmatnya sambal dan nasi hangat, ucapkan dalam hati: "Alhamdulillah."
Karena dengan satu ucapan itu, makanan sederhana pun bisa menjadi ladang pahala dan penanda kebahagiaan hakiki.
Semoga Allah selalu menganugerahkan keberkahan pada rezeki kita, menjadikan hati kita sehat, dan memperkuat iman kita melalui kenikmatan-kenikmatan kecil yang Dia berikan.
Oleh : Priono Subardan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar