Minggu, 31 Mei 2026

Dolar AS Menguat: Memicu Kejahatan Ekonomi Baru dan Meningkatkan Kriminalitas Konvensional



RASA1JIWA - Penguatan nilai dolar AS terhadap rupiah diprediksi akan menimbulkan dampak berantai yang sulit dihindari. 


Tak hanya mempengaruhi sektor ekonomi, situasi ini juga membuka celah bagi munculnya jenis kejahatan ekonomi baru sekaligus meningkatkan angka kriminalitas konvensional. 

Tekanan ekonomi akibat pelemahan rupiah menjadi pemicu utama kedua bentuk gangguan keamanan tersebut.

MUNCULNYA KEJAHATAN EKONOMI BARU
Kenaikan signifikan nilai dolar AS diperkirakan akan dimanfaatkan oleh sindikat kejahatan dengan modus operandi baru, antara lain:

· Peredaran Uang Palsu Dolar AS: Sindikat mulai aktif menjual dolar AS palsu, dikenal dengan istilah "Dolar Macau", dengan kurs jauh di bawah pasar—misalnya Rp13.400 per dolar AS.

· Target Masyarakat yang Ingin Cepat Kaya: Pelaku menjanjikan keuntungan instan di tengah tingginya permintaan dolar. Dalam kasus serupa yang pernah diungkap, barang bukti uang palsu yang disita nilainya mencapai Rp1,4 miliar.

PENINGKATAN KRIMINALITAS KONVENSIONAL
Pelemahan rupiah berdampak pada melemahnya daya beli dan tekanan ekonomi secara lebih luas, yang pada gilirannya dapat memicu aksi kejahatan jalanan.

· Pemicu Utama: Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dan kenaikan harga kebutuhan pokok dapat mendorong tindakan nekat demi memenuhi kebutuhan hidup.

· Contoh Kasus (Awal 2026): Di Bangka Belitung, melemahnya daya beli dan sulitnya lapangan kerja disebut-sebut berkorelasi langsung dengan peningkatan angka kriminalitas.

· Catatan Penting: Meskipun banyak pihak menghubungkan secara langsung, perlu diingat bahwa berdasarkan pernyataan pada tahun 2018, faktor narkoba masih menjadi pendorong utama kejahatan konvensional saat itu—bukan ekonomi semata. 

Namun, situasi ekonomi saat ini berpotensi memperparah kondisi yang sudah ada.

IMBUAN & TIPS ANTISIPASI
Untuk melindungi diri dari potensi peningkatan kejahatan ini, perhatikan hal-hal berikut:

Waspadai "Kurs Murah": Lakukan transaksi penukaran valuta asing hanya di bank resmi atau money changer berizin untuk menghindari uang palsu.

Hindari Investasi Instan: Waspadai tawaran investasi atau jual-beli dolar dengan iming-iming keuntungan tidak wajar.

Tingkatkan Kewaspadaan: Di tengah tekanan ekonomi, tingkatkan kewaspadaan terhadap potensi aksi kriminal di lingkungan sekitar.

Oleh: Priono Subardan
Praktisi & Pembuat Konten di:
๐Ÿพ k9Dewa – Pahami Anjing
๐Ÿพ k9fit – Anjing Selalu Fit
๐Ÿงก Rasa1Jiwa – Kita semua se-rasa satu jiwa

Artikel ini adalah bagian dari program #EdisiBerbagi.



Kenaikan Dolar AS Bukan Berkah, tapi Bensin bagi Penipuan via Telepon, WA, dan Video Call


RASA1JIWA - Penipuan melalui Telepon, WhatsApp, dan Video Call diprediksi akan semakin masif dan berbahaya. Alih-alih membawa berkah, kenaikan nilai dolar AS justru menyulut "api" baru bagi para pelaku kejahatan digital untuk berkreasi dan melancarkan aksinya secara lebih agresif.

Tiga alasan mengapa situasi ini menjadi ancaman serius:

Modus Penipuan Makin Kreatif Mengerek Momen Kenaikan Dolar
Peningkatan nilai dolar AS membuka celah psikologis yang dengan cepat dimanfaatkan penipu. Masyarakat yang cemas atau tergiur kurs tinggi menjadi sasaran empuk.

· Modus Jual Kurs Dolar di Bawah Pasar : Sindikat "Dolar Macau" misalnya, menawarkan kurs Rp13.400 per USD, jauh di bawah kurs nyata yang menyentuh Rp16.000. 

Ribuan lembar dolar palsu senilai Rp1,4 miliar telah diselesaikan dalam kasus ini.

· Investasi Bodong Berbalut Keuntungan Dolar: Seorang WNA asal Korea Selatan tertipu hingga Rp1,6 miliar melalui modus Black Dollar—kertas hitam yang diklaim bisa dicuci menjadi dolar asli.

· Trading Forex Palsu dengan Skema Ponzi : Robot trading "Metafor" merugikan 11.930 orang hingga Rp1,2 triliun dengan membawa-bawa nama dolar sebagai umpan.

Malware Digital Makin Canggih dengan Teknologi AI
Kenaikan dolar bukan satu-satunya pemicu. Perkembangan teknologi—khususnya AI—membuat tiga modus utama (telepon, WA, video call) semakin mematikan.

· Deepfake untuk Memalsukan Wajah/Suara : Teknologi AI mampu meniru suara kerabat atau wajah atasan melalui video call guna diperintahkan transfer dana.

· Serangan Siber Berbasis AI : Berlangsung lebih cepat, lebih masif, dan sulit dideteksi oleh sistem konvensional.

· Cybercrime-as-a-Service : Siapapun kini bisa membeli paket serangan berbasis AI dengan harga terjangkau, layaknya berlangganan aplikasi.

· Peringatan BI : Bank Indonesia sendiri telah mengingatkan, semakin majunya teknologi digital, semakin besar pula potensi serangan siber dan phishing .

Skala Kerugian: Bukan Lagi Subsidi, Melainkan Kebocoran Perekonomian Nasional

Ini bukan hanya kasus perorangan. Kerugian dari penipuan digital telah mencapai skema kebocoran ekonomi nasional.

· Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia rugi hingga USD 8 miliar per tahun akibat judi online saja.

· Kerugian dari penipuan investasi dan trading forex ilegal menambah angka ini secara signifikan.

· Dampak nyata terhadap perekonomian :
  · Capital flight (arus modal keluar ilegal) yang menggerus cadangan devisa.

  · Erosi nilai tukar rupiah yang sudah lemah.

  · Hilangnya multiplier effect domestik—uang rakyak hilang ke kantong penipu, tidak berputar di ekonomi lokal.

LANGKAH PERLINDUNGAN DIRI
Dengan modus yang kian canggih, lindungi diri melalui langkah-langkah sederhana namun krusial:

Transaksi Hanya di Lembaga Resmi : Bank atau money changer berizin, bukan transfer ke rekening pribadi.

Kurs di Bawah Pasar = 100% Jebakan : Jangan pernah tergiur.

Cek Legalitas Broker : Pastikan terdaftar di Bappebti untuk trading forex.

Waspadai "Guru Trading Glowing" : Mereka yang pamer gaya hidup mewah di medsos tapi menghindari pertanyaan teknis.

Pesan Emas : Jangan pernah transfer ke rekening pribadi untuk investasi atau trading bersama. Itu ciri utama penipuan.

Jangan Terbuai Iming-Iming Manis
Kenaikan dolar AS bukanlah berkah, melainkan bensin yang membuat api penipuan melalui telepon, WA, dan video call semakin membara.

Bukan hanya karena nilai dolar yang tinggi menggiurkan, tetapi karena momen ini dieksploitasi secara kreatif oleh para penipu dengan dibantu teknologi AI yang kian berubah.

Masyarakat harus lebih cerdas, tidak mudah tergiur janji "keuntungan dolar instan".

Semakin tinggi nilai dolar, semakin tinggi pula kewaspadaan yang diperlukan. Jangan sampai menjadi korban berikutnya.

Oleh: Priono Subardan
Praktisi & Pembuat Konten di:
๐Ÿพ k9Dewa – Pahami Anjing
๐Ÿพ k9fit – Anjing Selalu Fit
๐Ÿงก Rasa1Jiwa – Kita semua se-rasa satu jiwa

Artikel ini adalah bagian dari program #EdisiBerbagi.





Gawat! Telepon, WhatsApp, dan Video Call Bukan Lagi Alat Komunikasi, Tapi "Mesin Uang" Penipuan Paling Canggih


RASA1JIWA - Tiga modus ini - Telepon, WhatsApp, dan Video Call - termasuk yang paling "hit" atau paling sering digunakan dan paling merugikan masyarakat Indonesia dewasa ini.

Diperkirakan pula, modus ini prospektif dan akan terus berkembang dengan teknologi baru, yang berlomba kehadirannya.

Kesimpulan sebagai modus penipuan paling sering digunakan ini bertolak dari data Indonesia Anti Scam Center (IASC) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Faktanya, ini paling sering dan sangat merugikan. 

Sekitar 66 persen masyarakat Indonesia pernah menjadi target, setidaknya satu kali, berdasarkan laporan Global Anti-Scam Alliance 2025. 

Total kerugian yang tercatat dari November 2024 hingga Januari 2026 mencapai Rp9,1 triliun, dengan jumlah laporan sebanyak 432.637 kasus yang diterima IASC pada periode yang sama.

BUKAN TELEPON BIASA
Kenapa ini sangat berbahaya? Bukan sekadar telepon biasa. Pola penipuan ini kini punya tiga varian yang sangat merusak.

Pertama, Phantom Hacker Scam yang paling berbahaya. 

Pelaku berpura-pura menjadi bank atau polisi, lalu meminta Anda mengaktifkan fitur "Share Screen" atau Bagikan Layar saat video call WhatsApp. 

Di sinilah pelaku bisa melihat langsung kode OTP yang masuk, sehingga rekening langsung kosong dalam hitungan menit.

Kedua, file APK berbahaya. Ini modus klasik yang masih ampuh. 

Pelaku mengirim file undangan pernikahan, surat tilang, atau konfirmasi paket. Jika diinstal, file ini secara diam-diam mencuri semua data dan SMS Anda.

Ketiga, Deepfake dan pemerasan lewat video call. 

Modus video call untuk memeras kini semakin canggih. 

· Pemerasan (VCS): Pelaku mengajak video call tidak senonoh, merekamnya, lalu mengancam akan menyebarkan rekaman tersebut jika korban tidak membayar sejumlah uang .

· Rekaman Palsu (Deepfake): Teknologi AI memungkinkan pelaku memalsukan suara atau wajah kerabat/atasan korban untuk meminta transfer uang.

4 LANGKAH HINDARI SEBAGAI KORBAN
Berdasarkan kecanggihan penipuan itu, terapkan Tiga langkah pasti agar terhindar sebagai korban. 

Berdasarkan rekomendasi BSSN dan bank besar, lindungi diri dengan cara berikut.

Jangan pernah aktifkan Share Screen di WhatsApp, Zoom, atau aplikasi apapun jika diminta oleh orang yang menghubungi, apapun alasannya.

Jangan klik tautan atau buka file APK dari nomor tidak dikenal, meskipun tampilannya menggiurkan atau menakut-nakuti.

Jangan berikan OTP atau PIN. Ingat, bank, polisi, atau operator resmi tidak pernah meminta kode rahasia Anda melalui telepon, WhatsApp, atau video call.

Verifikasi mandiri: Jika "keluarga" menelepon minta uang, hubungi kembali via nomor lama. Jika "bank" menghubungi, matikan telepon dan hubungi call center resmi bank tersebut .

IDENTIFIKASI PENIPU 
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai lembaga termasuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), pola penipuan melalui telepon, WhatsApp, dan video call dapat diidentifikasi dengan melihat beberapa ciri khas modus operandinya.

Itu khas yang terbaca kini. Dipastikan bakal terus berkembang.

Data data itu tidak hanya mengandalkan laporan korban, tetapi juga analisis terhadap teknologi yang digunakan pelaku .

Berikut adalah rincian bagaimana data mengidentifikasi metode penipuan tersebut:

Modus Panggilan Telepon & WhatsApp
Data menunjukkan modus telepon klasik kini meningkat dengan memanfaatkan WhatsApp. 

Pola yang teridentifikasi antara lain:

· Mengaku dari Lembaga Resmi: Pelaku berpura-pura menjadi bank, polisi, atau provider, biasanya membawa isu darurat (seperti pemblokiran rekening) untuk memicu kepanikan korban.

· Social Engineering (Rekayasa Sosial): Pelaku memanipulasi psikologi korban untuk mendapatkan data sensitif secara sukarela, seperti OTP atau PIN.

· Mengirim File APK atau Tautan (Phishing): Mirip modus "kurir paket" atau "undangan digital", pelaku mengirim file APK berbahaya yang jika diinstal akan memberi akses remote ke ponsel korban.

Oleh: Priono Subardan
Praktisi & Pembuat Konten di:
๐Ÿพ k9Dewa – Pahami Anjing
๐Ÿพ k9fit – Anjing Selalu Fit
๐Ÿงก Rasa1Jiwa – Kita semua se-rasa satu jiwa

Artikel ini adalah bagian dari program #EdisiBerbagi.

Jumat, 29 Mei 2026

Dekati dan Pahamkan: Jangan Bunuh Empati Alami Anak saat Menolak Lihat Hewan Disembelih


RASA1JIWA - Tak jarang kita jumpai anak-anak di bawah usia delapan tahun yang antusias meminta ditemani melihat sapi dan kambing di area penyembelihan hewan kurban. 

Namun, ketika proses penyembelihan tiba, sebagian dari mereka hanya sempat melirik—lalu berlari menjauh karena takut atau kasihan pada hewan yang dilihatnya.

Situasi ini sangat wajar. Justru ini pertanda baik: anak memiliki empati alami. Tidak semua anak seusianya menyimpan kepekaan seperti itu. Karena itu, jangan bunuh empati tersebut.

Yang perlu dilakukan ketika anak memohon ditemani melihat proses penyembelihan:

· Jelaskan secara singkat sebelum ke lokasi:
    "Nanti ada sapi atau kambing yang disembelih supaya dagingnya bisa dimakan dan dibagikan ke orang yang membutuhkan."

· Tawarkan pilihan yang membuatnya merasa aman:
    Lihat dari kejauhan, atau lihat sebentar lalu pergi.

Saat anak berlari setelah melihat:

· Jangan memaksa anak kembali ke lokasi, apalagi mengolok ketakutannya.

· Hindari kalimat seperti "Jangan pengecut" atau "Lihat lagi sana"—ini bisa mematikan empati alaminya.

· Validasi perasaannya:
    "Kamu merasa kasihan atau sedih, ya? Wajar kok, sayang sama hewan itu."

· Peluk atau genggam tangannya, lalu ajak ke tempat yang lebih tenang.

· Jelaskan dengan tenang:
    "Memang agak kaget ya melihatnya. Tapi ini dilakukan cepat agar hewan tidak sakit lama, dan dagingnya berguna untuk banyak orang."

Pendekatan jangka panjang:

· Setelah kejadian, diskusikan asal makanan dan alasan penyembelihan: untuk kebutuhan, bukan karena senang menyakiti.

· Jika anak mulai tertarik, tunjukkan sisi positifnya: daging kurban memberi makan keluarga yang berkurban dan berbagi kepada tetangga.

· Jangan paksa anak menyaksikan lagi di kesempatan berikutnya. Hormati ritme kesiapannya.

Yang perlu diingat: anak berlari bukan tanda lemah, melainkan tanda hatinya masih bersih. 

Maka, melindungi empatinya lebih penting daripada "membiasakan" anak dengan kekerasan. 

Seiring bertambahnya usia dan pemahaman, ia akan belajar membedakan antara kebutuhan dan kekejaman.

RAGAM: Dampak Buruk Konten pada Kejiwaan Anak
Selain pengalaman langsung, anak juga rentan terpapar kontak buruk dari media sosial dan internet. 

Beragam tayangan yang tidak mempertimbangkan risiko bagi generasi mendatang dapat berdampak serius pada kejiwaan anak, antara lain:

Kekerasan eksplisit – Tayangan perkelahian, penyiksaan, atau kekerasan rumah tangga tanpa konteks penyelesaian yang mendidik.

Konten seksual – Adegan pornografi, rayuan daring (grooming), atau bahasan seksual tidak sesuai usia.

Perundungan (bullying) – Video ejekan, hujatan, atau pengucilan yang bisa ditiru sebagai perilaku normal.

Tantangan berbahaya – Tren seperti blackout challenge, makan deterjen, atau aksi ekstrem yang membahayakan fisik.

Konten kebencian & diskriminasi – Ujaran rasis, SARA, atau ajaran intoleransi terhadap kelompok tertentu.

Eksploitasi anak – Konten yang menjadikan anak sebagai korban atau pelaku kekerasan, seksual, atau pekerja ilegal.

Anonimitas beracun – Kolom komentar tanpa moderasi yang penuh ancaman, makian, atau tekanan psikologis.

Konten tidak sehat tentang tubuh – Promosi standar tubuh ekstrem, diet berbahaya, atau glorifikasi gangguan makan.

Gaming berlebihan & mikrotransaksi – Game dengan sistem loot box predator atau konten yang memicu kecanduan tanpa batasan waktu.

Hoaks & manipulasi informasi – Konten menyesatkan, teori konspirasi, atau ajakan membenci institusi (sekolah, orang tua, polisi).

Peran orang tua:
· Mendampingi anak saat mengakses internet.

· Menggunakan fitur parental control.

· Mengajarkan literasi digital sejak dini.

· Meminta anak melaporkan jika melihat konten yang mengganggu.

Jika anak sudah terlanjur terpapar konten buruk, diskusikan tanpa menghakimi, lalu batasi akses dan beri pemahaman ulang tentang nilai-nilai yang benar.


Oleh : Priono Subardan
Praktisi & Pembuat Konten di Rasa1Jiwa
Artikel terkait masalah sosial ini adalah bagian dari program #Rasa1JiwaEdisiBerbagi, diharapkan mewarnai pencarian solusi

Praktisi & Pembuat Konten di k9dewa.

Kamis, 28 Mei 2026

Etika Unggah Momen Kurban: Hindari Tampilkan Darah Muncrat dan Adegan Penyembelihan Eksplisit

 

RASA1JIWA: Dalam hal siaran ada etika, yang perlu diperhatikan beberapa hal:

Sensitivitas publik: Tidak semua orang nyaman melihat gambar darah atau penyembelihan secara eksplisit, baik karena alasan psikologis, agama (misalnya pandangan tentang aurat atau kemuliaan hewan kurban), maupun trauma.

Kebijakan platform media sosial: Platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan Twitter (X) umumnya melarang konten grafis kekerasan terhadap hewan jika tampak sadis atau tidak dalam konteks edukasi/agama yang wajar. 

Darah muncrat yang terlalu eksplisit bisa dihapus atau dibatasi masa tayangnya.

Etika berbagi:
   · Tampilkan momen penyembelihan secara proporsional, tidak perlu fokus pada darah yang menyembur.

   · Lebih baik unggah foto hewan sebelum disembelih, proses dengan sudut tidak vulgar, atau momen setelahnya (pengulitan, pemotongan daging).

   · Beri peringatan sensitif (trigger warning) jika tetap ingin menampilkan gambar darah.

Syarat syar'i: Dalam Islam, menyembelih hewan tidak dilarang untuk diabadikan, namun tidak dianjurkan menampilkan darah secara berlebihan karena bisa mengurangi rasa hormat terhadap hewan kurban dan mengganggu yang melihat.

Kesimpulan: Sebaiknya hindari menampilkan darah muncrat secara gamblang. Jika tetap ingin berbagi momen kurban, pilih sudut yang lebih edukatif dan humanis, serta tambahkan peringatan konten sensitif.

- oleh: Priono Subardan

Minggu, 24 Mei 2026

Wajar, Tingkat Kebahagiaan Suami Istri Tak Selaras


RASA1JIWA - Dalam sebuah pernikahan, suami dan istri tidak selalu merasa bahagia pada level yang sama. Perbedaan ini adalah hal yang normal dan sangat manusiawi.

Bukan pertanda gagal membina rumah tangga, perbedaan ini justru mencerminkan dinamika hubungan yang kompleks serta keunikan psikologi masing-masing individu.

Karena itu pula, lagu "Tak Ingin Usai" oleh Keisya Levronka, cepat meroket. Lagu itu tak lain potret, kehidupan sehari-hari.

Tak Ingin Usai adalah ungkapan emosional yang menggambarkan penolakan untuk merelakan sesuatu yang telah berakhir.

Secara spesifik, frasa ini mencakup beberapa makna:

Patah Hati: Menggambarkan hubungan asmara yang diselesaikan secara sepihak, sehingga pihak yang ditinggalkan merasa hancur dan sulit move on.

Kenangan yang Menetap: Keinginan kuat untuk mempertahankan momen atau kebersamaan dengan seseorang, meski kenyataannya hubungan tersebut telah usai.

Ketidakpastian: Perasaan berat hati untuk menerima perubahan dan berdamai dengan kenyataan yang ada.

Mengapa Perasaan Bahagia Bisa Berbeda?

Berikut beberapa penyebab yang sering terjadi:

1. Ekspektasi yang Berbeda Soal Bahagia
Suami dan istri tumbuh dengan nilai dan sosialisasi gender yang tak sama. Satu pihak mungkin menganggap kebahagiaan adalah keharmonisan keluarga dan kedekatan emosional, sementara pihak lain melihatnya dari pencapaian karier atau kemampuan memenuhi kebutuhan materi.

2. Sumber Kebahagiaan yang Tak Sama
Istri bisa sangat bahagia saat dekat dengan anak atau mendapat dukungan dari teman-teman. 

Suami mungkin lebih merasa bahagia ketika bisa menekuni hobi atau dihormati di tempat kerja. Keduanya sah-sah saja.

3. Cara Berekspresi dan Merasakan Emosi
Ada yang ekspresif dan mudah menampakkan kegembiraan, ada pula yang cenderung tenang dan internal dalam merasakan bahagia. Sikap tenang bukan berarti tidak bahagia.

4. Beban dan Stres yang Tidak Seimbang
Dalam fase tertentu, beban lebih berat di salah satu pihak. Misalnya, istri yang habis melahirkan mungkin kelelahan fisik dan emosional, sementara suami merasa tertekan karena tanggung jawab finansial. 

Titik tekan yang berbeda ini memengaruhi kebahagiaan sesaat.

5. Kualitas Hubungan Itu Sendiri
Penelitian menunjukkan kebahagiaan perkawinan bisa berbeda antara suami dan istri. 

Salah satu bisa merasa kebutuhannya akan dukungan, intimasi, atau apresiasi lebih terpenuhi dibandingkan pasangannya.

6. Faktor Individu di Luar Pernikahan
Kesehatan mental, kepuasan kerja, hubungan dengan keluarga besar, pertemanan, hingga pencapaian pribadi sangat memengaruhi kebahagiaan. 

Jika salah satu sedang bergumul dengan masalah di area ini, kebahagiaannya bisa menurun meski pernikahan baik-baik saja.

7. Fase Hidup yang Berbeda secara Psikologis
Prioritas dan rasa bahagia bisa berubah seiring usia. Bisa jadi salah satu pasangan sedang dalam fase pencarian jati diri atau krisis paruh baya, sehingga merasa kurang bahagia secara umum.

Yang Jauh Lebih Penting daripada Kesamaan Rasa Bahagia

Daripada menuntut level kebahagiaan yang sama persis, fokuslah pada hal-hal ini:

1. Komunikasi tanpa menyalahkan
   Ucapkan, "Akhir-akhir ini aku merasa agak kehilangan semangat, bagaimana perasaanmu?"
   Bukan, "Kamu kok selalu terlihat lebih bahagia daripada aku?"

2. Empati dan validasi
   Terima bahwa pasangan bisa memiliki perasaan yang berbeda. Perasaan itu selalu valid.

3. Kepuasan dalam hubungan
   Meski kebahagiaan individu berbeda, pastikan kualitas hubungan itu sendiri memuaskan bagi kedua belah pihak. Apakah hubungan ini memberi dukungan, keamanan, dan rasa dicintai?

4. Dukungan untuk kebahagiaan masing-masing
   Dukunglah pasangan untuk menemukan sumber kebahagiaannya di luar hubungan—hobi, pertemanan, karier. Hal ini justru akan memperkaya hubungan itu sendiri.

Kesimpulan
Perbedaan tingkat kebahagiaan adalah cerminan alami dari individualitas dalam sebuah pernikahan. 

Hubungan yang sehat bukanlah tentang dua orang yang selalu merasa sama persis setiap saat, melainkan tentang dua individu utuh yang saling menghormati perbedaan, berkomunikasi secara terbuka, dan berkomitmen membangun kehidupan bersama yang memuaskan bagi keduanya.

Oleh : Priono Subardan

Yang juga Praktisi & Pembuat Konten di k9Dewa.

Jumat, 03 April 2026

Unik Daya Rekat Alumni : Memori kolektif, Rasa memiliki, dan Nilai kekeluargaan


KOMUNITAS berbasis perekat sosial seperti satu sekolahan memang punya keunikan: ikatannya bukan karena aktivitas bersama yang rutin, melainkan karena memori kolektif, rasa memiliki, dan nilai kekeluargaan yang sudah terbentuk di masa lalu. 

Halalbihalal tahunan menjadi semacam satu-satunya ritual pengikat yang *kuat* —momen untuk merevitalisasi nostalgia dan silaturahmi, meski di luar itu komunikasi minim.

Berbeda dengan komunitas berbasis perekat hobi (misalnya pecinta musik tertentu, olahraga tertentu atau gaming). Komunitas ini justru butuh intensitas pertemuan atau aktivitas bersama agar ikatannya tetap terasa. 

Kalau jarang bertemu, minat bisa luntur atau tergantikan hobi baru.

Jadi, komunitas sekolah lebih tahan lama secara emosional. Pondasinya adalah pengalaman hidup bersama di masa formatif, bukan sekadar kesamaan aktivitas sesaat. 

Maka, adalah wajar bila Halalbihalal  menjadi momen sakral yang mampu “memaksa” pertemuan, tapi tanpa beban rutinitas.

Itupun kesuksesannga masih dipengaruhi oleh "kesehatan" organisasi.

Keunikan ini mungkin hanya ditemukan di budaya yang menjunjung silaturahmi seperti di Indonesia.

Oleh sebab itu, komunitas alumni butuh ekstra kerja keras untuk melakukan kegiatan lebih dari satu kali dalam setahun.

Berdasarkan catatan, komunitas musik jazz, misalnya, rilnya sulit bertahan lebih dari 4 tahun. 

Pada pertemuan rutin, suami-istri datang. Pertemuan selanjutnya hingga ke-5, keikutsertaan sertaan istri merosot, kebutuhan hadir hanya ingin mengancani suami, meski telinga nya tidak akrab dengan jazz.

Begitupun komunitas hobi anjing. Bila bersifat umum jenisnya, justru kurang diminati. Riilnya justru satu jenis yang dikehendaki. 

Oleh Priono Subardan  tentang kedalaman emosi dan koneksi personal dalam setiap konten yang dibuat. Yang bersangkutan juga Konten kreator dari #k9dewa




Dolar AS Menguat: Memicu Kejahatan Ekonomi Baru dan Meningkatkan Kriminalitas Konvensional

RASA1JIWA - Penguatan nilai dolar AS terhadap rupiah diprediksi akan menimbulkan dampak berantai yang sulit dihindari.  Tak hanya mempengar...