RASA1JIWA - Belakangan, kata "serba salah" terasa makin sering terdengar. Bukan hanya dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga menjadi semacam mood kolektif yang meresap di berbagai lini kehidupan.
Di media sosial, warung kopi, bahkan ruang rapat kantor—keluhan tentang kebimbangan mengambil keputusan di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu seolah menjadi pengalaman bersama.
Dalam kaitan ini, ditawarkan pula solusi dengan pendekatan Islami, judul "Bila 'Serba Salah' Menghimpit: Kembali ke Prinsip Dasar, Solusi Islami Keluar dari Kebimbangan"
Namun, "serba salah" di sini bukan sekadar lagu lawas atau gaya bahasa semata.
Serba Salah adalah cerminan nyata dari tekanan struktural yang kini menjerat hampir semua lapisan masyarakat.
Ketika ekonomi lesu, pilihan-pilihan yang tersedia tak lagi hitam-putih, melainkan abu-abu—dan setiap langkah terasa berisiko.
Karyawan dan Pengusaha: Antara Bertahan dan Beretika
Di sektor riil, dilema paling keras dirasakan oleh pengusaha kecil dan menengah serta karyawan yang menggantungkan hidup pada satu roda ekonomi.
Di satu sisi, bisnis harus berjalan. Di sisi lain, biaya produksi melonjak, daya beli pelanggan menurun, dan margin keuntungan menipis.
Pengusaha dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga atau mengurangi karyawan. Dua-duanya menyakitkan.
Menaikkan harga berarti membebani konsumen yang juga sedang kesusahan.
Mengurangi karyawan berarti memutus penghidupan orang lain—yang mungkin sudah bekerja bertahun-tahun.
Inilah yang disebut sebagai trade-off moral. Bukan karena mereka ingin, tetapi karena tidak ada pilihan lain.
Seorang pemilik usaha kecil di industri makanan ringan mengungkapkan:
"Saya tahu karyawan saya butuh gaji, tapi kalau saya tidak naikkan harga, saya yang bangkrut. Saya serba salah."
Beban psikologis ini nyata. Mereka tak hanya memikirkan neraca keuangan, tetapi juga hati nurani.
Konsumen Rumah Tangga: Hemat Dibilang Pelit, Boros Dibilang Tidak Bijak
Di tingkat rumah tangga, rasa "serba salah" bahkan lebih kasat mata.
Harga kebutuhan pokok—mulai dari beras, minyak goreng, hingga sayuran—terus merangkak naik.
Sementara itu, penghasilan sebagian besar pekerja stagnan, tidak bergerak seiring inflasi.
Ibu rumah tangga menghadapi teka-teki harian: Jika menahan belanja, keluarga bisa kekurangan gizi. Jika tetap belanja tanpa batas, keuangan rumah tangga jebol di tengah bulan. Tidak ada jalan tengah yang nyaman.
Yang lebih ironis lagi, keputusan berhemat sering kali mendapat stigma sosial.
Orang yang mulai mengatur pengeluaran secara ketat dicap "pelit" atau "kikir".
Sebaliknya, yang berusaha tetap memenuhi kebutuhan keluarga dianggap "boros" atau "tidak bijak" mengelola uang.
Di tengah tekanan ekonomi, mereka justru dihakimi secara sosial atas pilihan-pilihan yang sebenarnya tidak mereka inginkan.
Kebijakan Pemerintah: Tak Naik, Rakyat Lega tapi Negara Tekor. Naik, Rakyat Meradang
Pemerintah pun tak luput dari jerat "serba salah".
Setiap kali ada wacana menaikkan harga BBM, tarif listrik, atau pajak, gelombang protes nyaris selalu menyusul.
Namun di sisi lain, jika harga tidak disesuaikan dengan kondisi keekonomian global, subsidi membengkak dan defisit anggaran mengancam stabilitas fiskal negara.
Maka lahirlah kebijakan-kebijakan kompromistis yang sering kali memicu kekecewaan dari semua kubu.
Dinaikkan perlahan, dianggap tidak cukup tegas. Dinaikkan sekaligus, dianggap tidak berperikemanusiaan.
Pemerintah kerap berada di posisi yang tidak bisa memuaskan siapa pun—dan ini pun menjadi bagian dari beban kolektif yang dirasakan rakyat.
Seorang pengamat kebijakan publik mencatat:
"Ketika negara sedang sakit, obat apa pun terasa pahit. Tetapi tanpa obat, sakitnya semakin parah. Itulah serba salah yang sesungguhnya."
Kelas Menengah Rentan: Terjepit di Antara Dua Jurang
Namun, jika ada satu kelompok yang paling keras merasakan dampak "serba salah" secara struktural, itu adalah kelas menengah. Mereka berada di posisi paling terjepit:
· Tidak cukup miskin untuk menerima bantuan sosial seperti PKH, BPNT, atau subsidi listrik.
· Tidak cukup kaya untuk menyerap lonjakan biaya hidup tanpa mengubah gaya hidup secara drastis.
Akibatnya, kelas menengah terpaksa memangkas pengeluaran yang sebelumnya dianggap wajar: mulai dari mengurangi makan di luar, menunda pembelian kendaraan, hingga menarik anak-anak dari sekolah swasta ke negeri.
Mereka kehilangan "kemampuan untuk tetap terlihat baik" di mata lingkungan—dan ini menimbulkan stres sosial yang diam-diam menggerogoti kesehatan mental.
Data internal berbagai lembaga survei menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan diri ekonomi (economic confidence) kelas menengah anjlok dalam dua tahun terakhir, bahkan lebih tajam dibanding kelompok miskin maupun kaya. Sebab, mereka kehilangan jaring pengaman di kedua sisi.
Bukan Sekadar Keluhan, Tapi Gejala Sistemik
Ketika rasa "serba salah" menjadi pengalaman lintas lapisan—dari buruh, ibu rumah tangga, pengusaha, birokrat, hingga kelas menengah—maka ia bukan lagi sekadar keluhan individu. "Serba salah" adalah gejala sistemik dari ekonomi yang tidak lagi menyediakan ruang gerak yang adil.
Masyarakat tidak dibiarkan memilih secara rasional; mereka dipaksa memilih antara dua hal yang sama-sama merugikan.
Dalam ilmu ekonomi, ini disebut sebagai "negative-sum trade-off"—setiap pilihan menghasilkan kerugian, tinggal seberapa besar yang bisa ditoleransi.
Jika dibiarkan, jerat "serba salah" ini akan terus menghantui, menggerus kepercayaan publik, dan melemahkan kohesi sosial.
Maka, jalan keluarnya bukanlah mencari siapa yang benar atau salah, melainkan menciptakan ruang fiskal dan kebijakan yang memberikan alternatif ketiga—sebuah jalan keluar yang tidak mengorbankan satu pihak demi pihak lain.
Pesan Utama: Saatnya Melampaui Dikotomi
"Serba salah" bukanlah takdir. Ia adalah cerminan dari kebijakan yang terlambat, perlindungan sosial yang tidak tepat sasaran, dan ketimpangan yang makin melebar.
Masyarakat butuh kepastian, bukan sekadar simpati.
Karena pada akhirnya, ketika ekonomi tertekan, yang dibutuhkan bukanlah lagu penghibur—tetapi terobosan nyata yang membuat rakyat tidak lagi terjebak dalam pilihan-pilihan yang menyakitkan.
Tentang "serba salah" ini pula mengingatkan kita pada fabel keledai lawas dari Arab: seekor keledai yang kelaparan di antara dua tumpukan jerami yang sama persis jaraknya—ia tak bisa memilih, lalu mati kehabisan tenaga.
Begitulah risiko ketika sistem hanya menyediakan pilihan yang tampak setara, tetapi sama-sama melemahkan.
Artikel ini disusun berdasarkan fenomena sosial-ekonomi terkini dan pengalaman lintas lapisan masyarakat.
Oleh : Priono Subardan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar