RASA1JIWA (Esai) - Ada anggapan lama bahwa dapur hanyalah ruang kerja perempuan, tempat tugas-tugas rumah tangga diselesaikan tanpa banyak makna.
Namun sebuah buku tipis berjudul Hanya Rasa Cinta yang saya terima Senin ini, 27 Oktober 2026 via GoJek—kiriman dari seorang teman sekolah, Puri Ndari—menawarkan pembacaan lain: dapur dapat menjadi tempat rekreasi, dan meja makan adalah hasil akhir dari sebuah perjalanan cinta.
Sobat Puri sengaja mengirimi saya karena ia mengenal saya sebagai penyuka menu ala vegetarian, terutama sayur dan buah.
Melalui buku ini, Puri Ndari tidak sekadar membagikan resep; ia sedang menuliskan cara ia memaknai hidup, pernikahan, dan ketulusan.
Tulisan ini adalah ucapan terima kasih saya, sekaligus upaya membaca gagasan yang tersirat di balik 120 halaman itu.
Saya mengenal Puri Ndari sebagai sosok yang pernah berkarier di Diskominfo Pemkot Surabaya.
Kesibukannya dulu bahkan sempat membuatnya memutuskan tidak akan menikah.
![]() |
| Salad mangga, stroberi, murbay, slada lettuce. Taburi wijen. |
Itu sangat mengejutkan. Ini mengingatkan saya pada teman Puri, yang saya kenal sebagai sosok muslimah yang taat.
Namun hidup berjalan lain: orang tuanya memanggil, menjodohkannya dengan seorang dosen ITS, dan ia menjalani itu dengan penuh kepercayaan.
Baginya, apa pun yang disarankan orang tua adalah yang terbaik. Kini ia memiliki dua anak, putra semua dan sudah berkeluarga.
![]() |
| Sup rumput laut |
Perjalanan hidup inilah yang menjadi latar buku itu—sebuah buku ketiga, tebal 120 halaman, dengan sampul bertuliskan Hanya Rasa Cinta.
Judul itu bukan tanpa alasan. Dalam prakata, Puri Ndari mengaku bukan chef. Ia hanya bertolak dari keinginan sederhana: menjadikan "dapur sebagai tempat rekreasi" dan "meja makan sebagai hasil akhir masakan".
Pernyataan ini, jika dibaca lebih dalam, mengandung sebuah tesis tentang cinta yang tidak abstrak.
![]() |
| Sup krim tomat + telor |
Cinta, bagi Puri Ndari, tidak cukup diucapkan; ia harus diolah, dimasak, disajikan, dan dinikmati bersama.
Dapur menjadi laboratorium ketulusan, tempat ia merawat hubungan dengan sang suami—lelaki yang, menurutnya, telah memberi arti dalam hidup yang ia jalani.
Puncak kebahagiaannya sederhana: ketika semua masalah larut bersama menu yang habis disantap, lelah pun menjadi bahagia."
Gagasan itu diperkuat oleh struktur buku yang ia susun dalam tiga bab. Bab pertama, "Aneka Sup, Salad dan Potongan Buah", diinisiasi sebagai pembuka harapan.
![]() |
| Sup krim kentang + chia |
Di dalamnya terdapat subjudul "Bebuahan Penyegar Rasa" dengan 13 item yang diberi nama-nama puitis: Bebuahan yang Bercahaya, Bebuahan dalam Sejiwa, Bebuahan Pengobat Luka, Bebuahan yang Berbisik, Bebuahan yang Menerangi, dan seterusnya.
Penamaan ini bukan kebetulan; ia menunjukkan bahwa bagi Puri Ndari, bahan makanan bukan benda mati, melainkan medium untuk menyampaikan harapan, doa, dan cerita.
Bab kedua, "Penguat Cinta", berisi 39 resep oat, sup krim, dan bubur yang semuanya pernah ia buat sendiri.
Sementara bab ketiga, "Hati yang Hangat, untuk Jiwa yang Dikuatkan"—dengan keterangan "Suap Penutup"—menyajikan 23 resep smoothie dan jus sayuran.
![]() |
| Itu menu sarapan keluarga Puri pagi tadi. Puding tahu dan nori. |
Yang menarik, buku ini tidak berpretensi menjadi buku masak profesional. Ia justru semacam catatan harian yang dikemas dalam bentuk resep.
Setiap hidangan adalah simbol: sup sebagai kehangatan, salad sebagai kesegaran, bubur sebagai penguat, jus sebagai penutup yang menyejukkan.
Dengan begitu, Puri Ndari sesungguhnya sedang menawarkan sebuah filsafat hidup rumah tangga: bahwa cinta tidak tumbuh dari hal-hal besar, melainkan dari konsistensi merawat hal-hal kecil—memasak, menyajikan, dan membersamai.
Dari buku ini saya belajar bahwa perjodohan yang dijalani dengan ketulusan dapat berbuah menjadi cinta yang matang.
![]() |
| Alpokat + kelapa parut + flaxseed + wijen. Luncheon ayam potong tipis. Kentang merah kukus. Serutan wortel + timun campur dengan almond-biji labu + wijen |
Puri Ndari tidak memulai pernikahannya dari kisah romantis yang dramatis; ia memulainya dari kepatuhan, lalu mengolahnya menjadi cinta melalui dapur.
Inilah yang membuat Hanya Rasa Cinta terasa hangat: ia bukan buku tentang resep, melainkan tentang bagaimana seseorang memilih untuk mencintai setiap hari, dengan cara yang paling sederhana dan paling jujur.
![]() |
| Jus valentin : bit, terong belanda, wortel, red radish, timun, nanas. Diolah dengan cinta, dinikmati dengan bahagia. |
![]() |
| Jus kiwi + blackberry + pisang |
![]() |
| Jus brokoli dan timun, apel |
Terima kasih, Puri Ndari, telah mengirimkan buku ini kepada saya.
Lewat 120 halamannya, saya tidak hanya menerima kumpulan resep, tetapi juga sebuah pengingat: bahwa cinta yang paling kuat sering kali tidak bersuara, melainkan beraroma—mengepul dari dapur, tersaji di meja makan, dan tinggal lama di hati.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar