![]() |
| Buku "Ragil dan Mbarep" |
Dari Ruang Kerja yang Padat, Lahir Catatan yang Bermakna
FEATUTE RESENSI - Di tengah padatnya karier, seorang ibu tetap menemukan cara untuk hadir utuh bagi buah hatinya. Ia adalah Puri Ndari, sosok yang dalam buku catatan harian sebagai Dra. Sri Puri Surjandari, M.Si, alumni Stikosa AWS yang juga menempuh S2 di Universitas Dr. Soetomo.
Awalnya, ibu ini berkarier di Departemen Penerangan, lalu bergabung di Kominfo Pemkot Surabaya hingga Juli 2022.
Di sela kesibukannya, ia juga mengajar di Stikosa AWS dan Universitas Terbuka.
Namun, di antara agenda yang begitu rapat, ada satu kebiasaan sederhana yang ia rawat: menulis catatan harian tentang proses membesarkan Si Ragil dan Si Mbarep.
Kebiasaan kecil itulah yang kemudian menjelma menjadi buku berjudul "Ragil dan Mbarep", dengan ISBN: 978-634-7152-55-8.
Buku setebal 290 halaman—atau sekitar 2,3 cm—itu dikirim langsung oleh Puri Ndari melalui J&T. Saya terima pada Jumat pagi, 30 Oktober 2026.
Sebuah karya yang tampak sederhana, tetapi bernilai luar biasa bila kita mau memetik hikmahnya.
Buku Kecil dengan Nilai yang Besar
Di dalam buku itu bukan hanya tersimpan kenangan, tetapi juga jejak kasih sayang, proses belajar, dan koreksi diri seorang ibu.
Dari catatan hariannya, kita belajar bahwa mendokumentasikan proses membesarkan anak bukanlah pekerjaan kecil yang sia-sia.
Catatan harian adalah cermin. Ia membantu orang tua melihat kembali apa yang sudah dilakukan, menyadari kekurangan, dan memperbaiki cara mendampingi anak.
Dari catatan kecil yang ditulis dengan jujur, lahir kesadaran untuk terus bertumbuh—bukan hanya demi prestasi anak, tetapi demi karakter dan kebahagiaan keluarga.
Catatan Harian sebagai Cermin dan Koreksi Diri
Kisah Puri Ndari menunjukkan bahwa menulis bukan sekadar mengabadikan momen. Menulis adalah cara seorang ibu mendidik diri sendiri. Lewat catatan harian, ia belajar mendengarkan, memahami, dan memperbaiki cara mendampingi anak-anaknya.
Pesan ini relevan bagi siapa pun, terutama orang tua yang sering merasa waktu begitu cepat berlalu. Dengan mencatat, kita diajak untuk lebih sadar: apa yang sudah kita lakukan hari ini untuk keluarga? Apa yang bisa diperbaiki esok hari?
Melepas Beasiswa S3 demi Keluarga
Kisah Puri Ndari juga menunjukkan besarnya perjuangan seorang ibu. Ia pernah berniat memperdalam ilmu dengan mengambil S3 di luar negeri. Tes beasiswa ia ikuti, dan dari sekian banyak pendaftar se-Indonesia, ia termasuk 52 orang yang diterima.
Lampu hijau beasiswa sudah menyala terang. Namun, demi anak-anak dan keluarga, beasiswa itu akhirnya ia relakan lepas.
Yang mengharukan, anak-anaknya sempat tidak merestui kepergian sang ibu.
Si Mbarep mengingatkan dengan kalimat yang membuat hati seorang ibu trenyuh: nanti malaikat tidak bertanya tentang gelar atau jabatan, tetapi tentang bagaimana ia mengopeni Bapak dan anak-anaknya.
Si Mbarep juga berkata bahwa sang ibu akan kehilangan momen ketika ia wisuda dan saat adiknya lulus SMA.
Mendengar itu, sang ibu menangis. Ada harga yang harus dibayar dari sebuah pilihan, tetapi pilihan itu diambil dengan kesadaran: keluarga adalah prioritas.
Ketika Anak-Anak Tumbuh Menjadi Kebanggaan
Kekecewaan itu ternyata terbayar oleh kesuksesan dan karakter anak-anaknya.
Si Mbarep berhasil meraih gelar doktor di Italia pada usia 26 tahun. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di SMA 5 Surabaya dengan program akselerasi dua tahun, lalu masuk Universitas Indonesia (UI) Jakarta jurusan IT dan tampil sebagai wisudawan termuda pada usia 19 tahun.
Ia kemudian melanjutkan S2 di Dresden, Jerman, dengan beasiswa prestisius Erasmus Mundus.
Si Ragil pun tak kalah membanggakan. Ia selalu mengikuti jejak kakaknya: sekolah di tempat yang sama, masuk UI melalui jalur undangan, bahkan di fakultas yang sama.
Ia memang bukan wisudawan termuda, tetapi lulus dengan nilai sangat memuaskan. Di luar gedung wisuda, bahkan terpampang tulisan besar ucapan selamat dari perusahaan “Star Up” atas prestasinya.
Di balik semua itu, tak dapat dipungkiri ada peran seorang ibu yang mampu membuat belajar dan les terasa seperti kegiatan bermain yang menyenangkan.
Sejak anak-anak masih bayi, Puri Ndari berusaha menyisihkan waktu untuk mencurahkan kasih sayang secara optimal.
Ia juga tidak hanya menuntut prestasi, tetapi membangun kedekatan dan keteladanan.
Ujian yang Direlakan, Bakti yang Diutamakan
Salah satu kisah yang menyentuh adalah ketika Si Ragil pernah tidak mengikuti Ujian Akhir Semester.
Sang ibu baru mengetahui hal itu saat menerima surat dari Universitas Indonesia.
Deg! Rasa di dada sang ibu pun berkecamuk. Namun, Si Ragil menjawab tenang: “Tenang aja, Mak. IP-ku kan di atas 3,5. Semuanya aman.”
Ternyata, ia memilih pulang ke Surabaya saat itu untuk menjaga Bapak yang sedang sakit. Ia tidak tega membiarkan ibunya menjaga siang malam sendirian, sementara kakaknya masih di Italia.
Baginya, ujian bisa remidi, tetapi menjaga Bapak yang sakit tidak ada remidi. Mendengar itu, sang ibu menangis.
Kisah ini mengajarkan bahwa prestasi akademik penting, tetapi karakter dan bakti kepada orang tua jauh lebih berharga.
Anak yang berilmu tanpa hati yang besar akan kehilangan makna; sebaliknya, anak yang berilmu dan berbakti akan menjadi kebanggaan sejati.
Doa yang Dirawat Lewat Tindakan
Buku itu juga merekam perjuangan lain: setiap anak-anak menempuh ujian, sang ibu selalu berbagi nasi bungkus di jalanan dan mengiringinya dengan puasa.
Ada doa yang tidak selalu terucap, tetapi dirawat lewat tindakan.
Ada kasih yang tidak selalu terlihat, tetapi tercatat dalam lembaran harian.
Di dalam buku itu, cerita dirajut dengan detail: dari Ragil Pup, Ragil Belajar Membaca, Jembatan ke Surga, Ragil Kuliah di UI, Surat Cinta dari UI, hingga Mbarep Ilang, Ini Budi, Emak Pengin Kuliah S3, Lulusan Termuda UI, Bagi Nasi Bungkus, sampai Napak Jejak sang Bapak.
Semua tersusun rapi, menghadirkan perjalanan seorang ibu yang tidak hanya membesarkan anak, tetapi juga mendidik diri sendiri.
Menulis untuk Mengingat, Mengoreksi, dan Bertumbuh
Maka, menulis adalah hal yang bijaksana. Mencatat proses membesarkan anak, bukan untuk pamer, tetapi untuk belajar.
Dari catatan harian, orang tua dapat melakukan koreksi diri; dari koreksi diri, lahir pendampingan yang lebih sadar; dan dari pendampingan yang sadar, tumbuh kebanggaan sebagai orang tua—bukan semata karena gelar atau prestasi, tetapi karena anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berbakti, dan berhati besar.
Catatan harian Puri Ndari mengingatkan kita bahwa hal-hal besar sering kali lahir dari kebiasaan kecil yang dirawat dengan konsisten.
Menuliskan kasih hari ini bisa menjadi warisan makna bagi keluarga di masa depan.
Dari catatan sederhana, seorang ibu tidak hanya menuai kebanggaan, tetapi juga menanam keteladanan.
Biografi Penulis Buku
Nama Lengkap:
Dra. Sri Puri Surjandari, M.Si
Tempat, Tanggal Lahir:
Surabaya, 30 Juni 1964
Pendidikan Terakhir:
S2 Komunikasi
Nama Suami:
Ir. Dwiatmono Agus Widodo, M.Sc
Nama Anak:
- Radityo Eko Prasojo, Ph.D., M.Sc., MBA, S.Kom.
- Rahadyan Awinda Pramudita, S.Kom.
Nama Menantu:
Ade Kurniawati, S.Kom. (Istri Radityo)
Nama Cucu:
Remilio Azri Pradana
Alamat Rumah:
Perum ITS Jl. Teknik Arsitektur Blok H No. 2, Surabaya



Tidak ada komentar:
Posting Komentar