Senin, 19 Oktober 2026

Kejujuran Membuahkan Senyuman


Nakal, memang. Tapi coba saja baca sampai habis—kalau di tengah jalan Anda merasa "ini kok saya banget", berarti kejujuran sudah lama mengetuk pintu hati Anda, hanya saja Anda pura-pura tidak dengar.

RASA1JIWA, ESAI PERSONAL - Saya pernah menempuh banyak jalan. Sembilan dunia, sembilan wajah, dan sembilan pelajaran.

Esai personal ini disajikan pula dalam pandangan Islam, berjudul "Kejujuran  Membuahkan Senyuman: Perspektif Islam"

Saya pernah menjadi wartawan ekonomi di Surabaya Post, yang tumbuh subur pada era Presiden Soeharto—mengejar fakta, menuliskannya apa adanya, meski kadang tangan ini nakal ingin sedikit "mempercantik" berita agar lebih menjual.

Tapi kenakalan itu saya tahan. Saya tahu, sekali fakta dipelintir, pembaca mungkin percaya sekali—dan setelah itu, kepercayaan tak akan pernah kembali. 

Di era itu, ketika dinamika ekonomi dan politik begitu kental, kejujuran seorang wartawan benar-benar diuji—dan justru di situlah saya belajar bahwa fakta adalah fakta, tak bisa ditawar.

Saya pernah menekuni jasa kehumasan dengan klien perusahaan berkantor pusat di Surabaya. Di antaranya PT Barata Indonesia (BUMN), dan Sinar Supermarket Group (Swasta).

Di sini godaannya lebih halus, lebih nakal: bagaimana menyampaikan yang menyenangkan tanpa menyembunyikan yang tidak menyenangkan? 

Saya belajar, klien yang bertahan lama bukanlah yang paling banyak saya puji, melainkan yang paling jujur saya nasihati—termasuk saat nasihat itu pahit dan membuat mereka sempat tak suka.

Saya pernah membuka usaha percetakan, terdorong kebutuhan produk cetakan sendiri yang banyak.

Saya pernah menjadi penulis biografi tokoh. Di antaranya ketua Golkar Jatim, Moch. Said—dan di sinilah kejujuran diuji dengan cara paling nakal: menuliskan kisah orang lain apa adanya, bukan sebagaimana ia ingin dikenang. 

Biografi yang jujur—yang memuat lika-liku, bukan hanya gemerlap—justru lebih dihargai. Ini lebih menghormati pembaca dan menghormati subjeknya.

Saya pernah memproduksi air radiator, terkait hobi otomotif (Jeep) saya.

Saya pernah menjalankan produksi telur asin dengan omzet 700 butir sehari. Peemasaran online lewat telurasin(dot)com—dengan beberapa tingkatan keasinan yang saya sampaikan apa adanya. Ini pelanggan berkesempatan memilih sesuai selera, bukan sesuai klaim.

Saya pernah membangun usaha pembiakan herder lewat Kennel "k9Canine-Herder Kennel"—tanpa menjual janji keturunan atau kualitas yang tidak saya yakini.

Saya pernah mengelola rental k9Canine yang didukung 34 ekor herder—dengan kejujuran berarti kondisi anjing yang benar-benar sehat dan siap kerja.

Dan saya pernah memproduksi pakan anjing—daging giling beku—dengan nama k9ransum. Daging yang saya giling harus benar-benar daging yang saya janjikan, bukan campuran yang mengelabui.

Sembilan dunia yang tampak berbeda, tetapi satu benang merah menyatukan semuanya: KEJUJURAN.


Kejujuran = Nyawa
Nakal sekali rasanya, ketika dunia bisnis mengajarkan "yang penting laku dulu". Tapi saya sudah membuktikan sebaliknya—dan justru itu yang membuat saya bisa tidur nyenyak.

Di ruang redaksi, saya belajar: berita jujur adalah berita yang tidak menambah dan tidak mengurangi. Fakta adalah fakta.

Di meja konsultan, saya belajar: klien paling setia adalah yang berani saya nasihati dengan jujur, bukan yang paling banyak saya manjakan.

Di dunia cetak, hasil harus sesuai pesanan—tidak boleh ada pengurangan bahan yang mengelabui.

Di air radiator, kualitas harus sesuai janji. Ini menyangkut mesin orang lain.

Di telur asin, keasinan harus sesuai yang saya sampaikan—bukan sesuai yang paling menguntungkan.

Di kennel dan rental, saya tidak menjual janji yang tidak saya yakini.

Di pakan anjing, daging ya daging—bukan campuran yang mengelabui.

Saya tidak pernah mengatakan "paling asin" atau "paling enak" jika tidak demikian. Saya biarkan produk saya berbicara, dan saya biarkan kejujuran saya yang menjaga nama.
 

Berkah yang Tak Terduga: Kemudahan di Jalan
Ada satu hal yang mungkin terdengar nakal untuk diceritakan— hampir seperti membual. Tetapi justru inilah bukti paling sederhana bahwa kejujuran itu berbuah berkah.

Sejak dulu, saya merasakan kemudahan yang datang tanpa saya minta. Salah satunya saat pemeriksaan surat-surat kendaraan di jalanan.

Saya tidak pernah menyiapkan strategi menghadapi petugas. Yang saya bawa hanya keyakinan bahwa surat-surat saya lengkap—dan senyuman yang selalu melilit di batin saya. 

Anehnya, ketika tiba giliran saya diperiksa, sering kali saya langsung disuruh jalan. Paling terpaksa, petugas hanya melihat Kartu Tanda Penduduk (KTP), lalu mempersilahkan saya lanjut.

Saya sangat merasakan kemudahan itu. Bukan karena saya punya kenalan, bukan karena saya memberi sesuatu—sama sekali tidak. Saya hanya percaya: hati yang jujur memancarkan sesuatu yang tidak bisa dilihat mata, tetapi bisa dirasakan orang lain. Petugas pun, entah sadar atau tidak, menangkap pancaran itu.

Nah, di titik ini saya berani bertanya kepada Anda: pernahkah Anda merasakan hal serupa? Kemudahan yang datang bukan karena kecurangan, melainkan justru karena Anda memilih lurus? Kalau pernah, berarti Anda sudah membuktikan sendiri—kejujuran itu bukan hanya soal moral, tetapi soal keberkahan.


Berkah Nyata: Undian dan Pilihan
Namun, kejujuran yang saya pegang sejak bocah ini bukan hanya soal kemudahan di jalan. Sejak kecil, saya merasakan kejujuran sebagai hal penting yang harus diutamakan. 

Orang tua saya, yang berlatar pabrik gula menjunjung tinggi pondasi itu. Manfaatnya saya rasakan langsung ketika mulai bekerja—meski tanpa surat tugas, saya bisa menjumpai siapapun dalam menjalankan pekerjaan kewartawanan.

Kemudahan lain yang saya terima: ketika undian kepemilikan rumah YKP yang saya tempati sekarang, saya berada di urutan nomor 2 dari 100 undangan.

Begitu pun ketika undian pemilihan nomor telepon kabel di Rungkut YKP, di mana yang antri mendapatkan nomor pilihan, saya mendapat giliran nomor 2—dengan memilih nomor telepon 8710008.

Di samping itu, sangat banyak ekstra bonus yang saya dapatkan dari-Nya, yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.


Senyuman Tak Bisa Dibeli
Dan dari semua pengalaman itu, ada satu hal yang saya rasakan berulang kali—sederhana, tetapi dalam:

Kejujuran membuahkan senyuman.

Senyuman pelanggan yang menemukan daging giling sesuai janji.

Senyuman pembeli telur asin—rumah-rumah makan ternama—yang mendapat keasinan persis seperti yang saya sampaikan.

Senyuman pemilik anjing yang percaya pada kennel dan rental saya.

Senyuman klien yang akhirnya percaya karena saya berani berkata benar.

Senyuman petugas di jalan yang mempersilakan saya lewat, seolah tahu saya tidak membawa apa pun yang perlu disembunyikan.

Dan senyuman saya sendiri—karena bisa tidur tenang. Nama saya bisa dipegang. Usaha saya tumbuh bukan dari tipu daya, melainkan dari kepercayaan.

Nah, di titik ini saya berani bertaruh: Anda pun pernah merasakan "senyuman batin" itu—saat Anda memilih jujur meski rugi sesaat. Bukankah itu yang membuat hati terasa lebih ringan?


Kejujuran: Modal yang Tak Pernah Merugi
Saya tidak mengatakan kejujuran itu mudah. Ia sering berbiaya: kehilangan satu-dua pesanan, kehilangan untung sesaat, harus berani mengatakan "ini belum sempurna".

Tetapi saya sudah membuktikannya di lapangan—di ruang redaksi, di meja konsultan, di dunia cetak, di kandang herder, di dapur produksi saya, dan bahkan di jalan raya saat surat-surat diperiksa.

Kejujuran memang mahal, tetapi ia satu-satunya modal yang tidak pernah merugi.


Arah Hidup Berubah
Namun ada satu babak yang mengubah arah hidup saya.

Semua usaha itu kini telah saya hentikan. Dipegang orang lain, justru merosot—dan setelah saya renungkan, pangkalnya ternyata tidak terjaganya nilai kejujuran.

Nakal, ya—kadang kita baru sadar betapa berharganya sesuatu setelah ia hilang dari tangan.

Kini, di usia kepala enam, saya berputar haluan. Saya mencurahkan diri dengan berkhidmat kepada agama Islam sejak 2023—dengan kekuatan pena sebagai wartawan di jalan-Nya, berbagi yang bertolak dari beragam pengalaman yang telah saya lewati.

Belok arah ini saya yakini datang dari-Nya. Sebab di situlah saya sadar: kejujuran bukan hanya soal dagang, tetapi soal hidup dan akhirat. Maka saya memilih kembali, dengan pena sebagai jalan pengabdian.


Penutup: Warisan, Bukan Pinjaman
Maka izinkan saya menutup dengan keyakinan yang lahir dari pengalaman, bukan sekadar teori:

Kejujuran adalah hal utama yang harus dipegang oleh siapa pun yang mendambakan kesuksesan abadi.

Sebab kesuksesan yang dibangun di atas kebohongan hanyalah pinjaman waktu—bersinar sebentar, lalu padam saat kebenaran menuntut.

Sementara kesuksesan yang dibangun di atas kejujuran adalah warisan: tumbuh perlahan, mengakar dalam, dan bertahan melampaui generasi.

Saya memilih menjual kejujuran—dalam berita yang saya tulis, dalam nasihat yang saya berikan, dalam biografi yang saya susun, dalam cetakan yang saya hasilkan, dalam telur asin yang saya produksi, dalam herder yang saya rawat, dan dalam daging giling yang saya olah.

Setiap kali kejujuran itu bertemu dengan kepercayaan orang lain, di situlah senyuman itu muncul. Senyuman yang tidak bisa dibeli, tetapi bisa diwariskan.

Jujurlah, meski berat. Sebab hanya yang jujur yang bisa tidur tenang, dipercaya orang, dan meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.


Bila setelah membaca ini Anda merasa "ah, saya juga pernah begitu"—itu bukan kebetulan. Itu kejujuran Anda sendiri yang sedang menyapa, nakal-nakal mengingatkan: bahwa sesungguhnya, hati nurani tak pernah bisa diajak kompromi.

Salam hangat,


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

QRIS di Kotak Amal: Ketika Kebaikan Tak Lagi Terhalang Dompet Kosong

Fenomena Dompet Digital dan Peluang bagi Masjid Esai Persuasif - Zaman berubah, dan cara kita beribadah pun turut berubah. Coba perhatikan ...