Bismillahirrahmanirrahim
Nakal, memang. Tapi coba saja baca sampai habis—kalau di tengah jalan Anda merasa "ini kok saya banget", berarti kejujuran sudah lama mengetuk pintu hati Anda, hanya saja Anda pura-pura tidak dengar. Dan dalam Islam, pura-pura tidak dengar terhadap panggilan hati nurani adalah awal dari kemunafikan—na'udzubillah.
Sembilan Dunia, Satu Benang Merah
RASAJIWA, HIKMAH - Saya pernah menempuh banyak jalan. Sembilan dunia, sembilan wajah, sembilan pelajaran. Dan di setiap dunia itu, Islam mengajarkan satu prinsip yang sama: ash-shidqu — kejujuran — adalah pondasi yang tidak bisa ditawar.
Hikmah ini disajikan pula versi pada umumnya, berjudul "Kejujuran Membuahkan Senyuman"
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Hendaklah kalian berpegang pada kejujuran, karena kejujuran membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan membimbing kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur (shiddiq)."
(HR. Bukhari & Muslim)
Saya pernah menjadi wartawan ekonomi di Surabaya Post, yang tumbuh subur pada era Presiden Soeharto—mengejar fakta, menuliskannya apa adanya, meski kadang tangan ini nakal ingin sedikit "mempercantik" berita agar lebih menjual.
Tapi kenakalan itu saya tahan. Saya tahu, sekali fakta dipelintir, pembaca mungkin percaya sekali—dan setelah itu, kepercayaan tak akan pernah kembali. Dalam Islam, menyampaikan berita dusta adalah dosa besar. Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (shiddiqin)."
(QS. At-Taubah: 119)
Di era itu, ketika dinamika ekonomi dan politik begitu kental, kejujuran seorang wartawan benar-benar diuji—dan justru di situlah saya belajar bahwa fakta adalah fakta, tak bisa ditawar. Al-haqqu ya'lu wa la yu'la 'alaih — kebenaran itu tinggi, tidak ada yang mengunggulinya.
Godaan yang Lebih Halus
Saya pernah menekuni jasa kehumasan dengan klien perusahaan berkantor pusat di Surabaya. Di antaranya PT Barata Indonesia (BUMN), dan Sinar Supermarket Group (Swasta).
Di sini godaannya lebih halus, lebih nakal: bagaimana menyampaikan yang menyenangkan tanpa menyembunyikan yang tidak menyenangkan?
Saya belajar, klien yang bertahan lama bukanlah yang paling banyak saya puji, melainkan yang paling jujur saya nasihati—termasuk saat nasihat itu pahit dan membuat mereka sempat tak suka.
Inilah yang dalam Islam disebut nasihat (nasihah)—menghendaki kebaikan bagi saudara kita, meski harus menyampaikan yang tidak enak didengar. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Agama adalah nasihat." (HR. Muslim)
Dan nasihat yang jujur—meski pahit—adalah bentuk kasih sayang yang paling tinggi dalam Islam. Karena sesungguhnya, man lam yarham la yurham — siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.
Menuliskan Kebenaran, Meski Berat
Saya pernah menjadi penulis biografi tokoh. Di antaranya ketua Golkar Jatim, Moch. Said—dan di sinilah kejujuran diuji dengan cara paling nakal: menuliskan kisah orang lain apa adanya, bukan sebagaimana ia ingin dikenang.
Biografi yang jujur—yang memuat lika-liku, bukan hanya gemerlap—justru lebih dihargai. Ini lebih menghormati pembaca dan menghormati subjeknya. Dalam Islam, ini sejalan dengan perintah Allah:
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 42)
Kejujuran dalam Berniaga
Saya pernah memproduksi air radiator, telur asin dengan omzet 700 butir sehari, membangun kennel herder, rental anjing, dan memproduksi pakan anjing. Di setiap usaha ini, kejujuran adalah nyawanya.
Rasulullah ﷺ, sebelum diangkat menjadi nabi, telah dikenal sebagai Al-Amin — yang terpercaya — dalam berniaga. Beliau bersabda:
"Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan orang-orang yang mati syahid."
(HR. Tirmidzi)
Dan ancaman bagi yang berbuat curang dalam berniaga sangat tegas:
"Barangsiapa yang menipu, maka ia bukan dari golonganku."
(HR. Muslim)
Di telur asin, keasinan harus sesuai yang saya sampaikan—bukan sesuai yang paling menguntungkan.
Di pakan anjing, daging ya daging—bukan campuran yang mengelabui.
Di kennel dan rental, saya tidak menjual janji yang tidak saya yakini. Saya tidak pernah mengatakan "paling asin" atau "paling enak" jika tidak demikian.
Saya biarkan produk saya berbicara, dan saya biarkan kejujuran saya yang menjaga nama.
Berkah yang Tak Terduga: Kemudahan di Jalan
Ada satu hal yang mungkin terdengar nakal untuk diceritakan—hampir seperti membual. Tetapi justru inilah bukti paling sederhana bahwa kejujuran itu berbuah berkah.
Sejak dulu, saya merasakan kemudahan yang datang tanpa saya minta. Salah satunya saat pemeriksaan surat-surat kendaraan di jalanan. Saya tidak pernah menyiapkan strategi menghadapi petugas. Yang saya bawa hanya keyakinan bahwa surat-surat saya lengkap—dan senyuman yang selalu melilit di batin saya.
Anehnya, ketika tiba giliran saya diperiksa, sering kali saya langsung disuruh jalan.
Saya sangat merasakan kemudahan itu. Bukan karena saya punya kenalan, bukan karena saya memberi sesuatu—sama sekali tidak. Saya hanya percaya: hati yang jujur memancarkan sesuatu yang tidak bisa dilihat mata, tetapi bisa dirasakan orang lain.
Dalam Islam, ini bukan hal yang aneh. Allah berfirman:
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(QS. At-Talaq: 2-3)
Dan:
"Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."
(QS. At-Talaq: 4)
Kejujuran adalah bagian dari takwa. Dan takwa—sebagaimana janji Allah—selalu berbuah kemudahan, baik di dunia maupun di akhirat.
Berkah yang Nyata: Undian dan Pilihan
Namun, kejujuran yang saya pegang sejak bocah ini bukan hanya soal kemudahan di jalan. Sejak kecil, saya merasakan kejujuran sebagai hal penting yang harus diutamakan.
Orang tua saya, yang berlatar pabrik gula, menjunjung tinggi pondasi itu. Manfaatnya saya rasakan langsung ketika mulai bekerja—meski tanpa surat tugas, saya bisa menjumpai siapapun dalam menjalankan pekerjaan kewartawanan.
Kemudahan lain yang saya terima: ketika undian kepemilikan rumah YKP yang saya tempati sekarang, saya berada di urutan nomor 2 dari 100 undangan.
Begitu pun ketika undian pemilihan nomor telepon kabel di Rungkut YKP, saya mendapat giliran nomor 2—dengan memilih nomor telepon 8710008.
Di samping itu, sangat banyak ekstra bonus yang saya dapatkan dari-Nya, yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Dalam Islam, semua ini adalah bentuk barakah — keberkahan yang datang dari Allah, bukan semata-mata keberuntungan.
Barakah adalah ziyadah al-khair — tambahan kebaikan yang tidak terduga. Dan barakah seringkali datang kepada orang-orang yang jujur, karena kejujuran adalah pintu bagi turunnya barakah.
Senyuman yang Tak Bisa Dibeli
Dan dari semua pengalaman itu, ada satu hal yang saya rasakan berulang kali—sederhana, tetapi dalam:
Kejujuran membuahkan senyuman.
Senyuman pelanggan yang menemukan daging giling sesuai janji.
Senyuman pembeli telur asin—resto-resto ternama—yang mendapat keasinan persis seperti yang saya sampaikan.
Senyuman pemilik anjing yang percaya pada kennel dan rental saya.
Senyuman klien yang akhirnya percaya karena saya berani berkata benar.
Senyuman petugas di jalan yang mempersilahkan saya lewat, seolah tahu saya tidak membawa apa pun yang perlu disembunyikan.
Dan senyuman saya sendiri—karena bisa tidur tenang.
Dalam Islam, ketenangan hati adalah karunia yang paling mahal. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga. Dan sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan menuntun kepada neraka."
(HR. Bukhari & Muslim)
Dan hati yang tenang— qalbun salim —adalah hati yang bersih dari kedustaan. Inilah yang membuat tidur nyenyak, dan inilah yang membuat wajah berseri.
Kejujuran: Modal yang Tak Pernah Merugi
Saya tidak mengatakan kejujuran itu mudah. Ia sering berbiaya: kehilangan satu-dua pesanan, kehilangan untung sesaat, harus berani mengatakan "ini belum sempurna".
Tetapi saya sudah membuktikannya di lapangan—di ruang redaksi, di meja konsultan, di dunia cetak, di kandang herder, di dapur produksi saya, dan bahkan di jalan raya saat surat-surat diperiksa.
Kejujuran memang mahal, tetapi ia satu-satunya modal yang tidak pernah merugi.
Dan dalam Islam, ini adalah janji Allah yang pasti:
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka..."
(QS. At-Taubah: 111)
Setiap kejujuran yang kita pegang adalah transaksi dengan Allah—dan Allah tidak pernah ingkar janji.
Arah Hidup Berubah
Namun ada satu babak yang mengubah arah hidup saya.
Semua usaha itu kini telah saya hentikan. Dipegang orang lain, justru merosot—dan setelah saya renungkan, pangkalnya ternyata tidak terjaganya nilai kejujuran.
Nakal, ya—kadang kita baru sadar betapa berharganya sesuatu setelah ia hilang dari tangan.
Kini, di usia kepala enam, saya berputar haluan. Saya mencurahkan diri dengan berkhidmat kepada agama Islam sejak 2023—dengan kekuatan pena-ku sebagai wartawan di jalan-Nya, bertolak dari beragam pengalaman yang telah saya lewati.
Belok arah ini saya yakini datang dari-Nya. Sebab di situlah saya sadar: kejujuran bukan hanya soal dagang, tetapi soal hidup dan akhirat. Maka saya memilih kembali, dengan pena sebagai jalan pengabdian.
Allah berfirman:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik..."
(QS. An-Nahl: 125)
Dan saya memilih menjadi juru dakwah dengan pena—bukan dengan pedang, bukan dengan paksaan, tetapi dengan kejujuran yang telah saya uji selama puluhan tahun.
Penutup: Warisan, Bukan Pinjaman
Maka izinkan saya menutup dengan keyakinan yang lahir dari pengalaman, bukan sekadar teori:
Kejujuran adalah hal utama yang harus dipegang oleh siapa pun yang mendambakan kesuksesan abadi.
Sebab kesuksesan yang dibangun di atas kebohongan hanyalah pinjaman waktu—bersinar sebentar, lalu padam saat kebenaran menuntut.
Sementara kesuksesan yang dibangun di atas kejujuran adalah warisan: tumbuh perlahan, mengakar dalam, dan bertahan melampaui generasi.
Dan dalam Islam, ini adalah janji Allah yang tertulis dalam Al-Qur'an:
"Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu...'"
(QS. At-Taubah: 105)
Setiap kejujuran yang kita tanam adalah investasi untuk akhirat. Setiap dusta yang kita hindari adalah tabungan untuk ketenangan hati. Dan setiap senyuman yang lahir dari kejujuran adalah sedekah —sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
"Senyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah."
(HR. Tirmidzi)
Jujurlah, meski berat. Sebab hanya yang jujur yang bisa tidur tenang, dipercaya orang, dan meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.
Dan kalau setelah membaca ini Anda merasa "ah, saya juga pernah begitu"—itu bukan kebetulan. Itu kejujuran Anda sendiri yang sedang menyapa, nakal-nakal mengingatkan: bahwa sesungguhnya, hati nurani tak pernah bisa diajak kompromi.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Salam hangat,
Oleh: Priono Subardan
"Ya Allah, tunjukkanlah kami kepada kebenaran sebagai kebenaran, dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kami kepada kebatilan sebagai kebatilan, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya."
— Amin ya Rabbal 'Alamin.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar