Halalbihalal tahunan menjadi semacam satu-satunya ritual pengikat yang *kuat* —momen untuk merevitalisasi nostalgia dan silaturahmi, meski di luar itu komunikasi minim.
Berbeda dengan komunitas berbasis perekat hobi (misalnya pecinta musik tertentu, olahraga tertentu atau gaming). Komunitas ini justru butuh intensitas pertemuan atau aktivitas bersama agar ikatannya tetap terasa.
Kalau jarang bertemu, minat bisa luntur atau tergantikan hobi baru.
Jadi, komunitas sekolah lebih tahan lama secara emosional. Pondasinya adalah pengalaman hidup bersama di masa formatif, bukan sekadar kesamaan aktivitas sesaat.
Maka, adalah wajar bila Halalbihalal menjadi momen sakral yang mampu “memaksa” pertemuan, tapi tanpa beban rutinitas.
Itupun kesuksesannga masih dipengaruhi oleh "kesehatan" organisasi.
Keunikan ini mungkin hanya ditemukan di budaya yang menjunjung silaturahmi seperti di Indonesia.
Oleh sebab itu, komunitas alumni butuh ekstra kerja keras untuk melakukan kegiatan lebih dari satu kali dalam setahun.
Berdasarkan catatan, komunitas musik jazz, misalnya, rilnya sulit bertahan lebih dari 4 tahun.
Pada pertemuan rutin, suami-istri datang. Pertemuan selanjutnya hingga ke-5, keikutsertaan sertaan istri merosot, kebutuhan hadir hanya ingin mengancani suami, meski telinga nya tidak akrab dengan jazz.
Begitupun komunitas hobi anjing. Bila bersifat umum jenisnya, justru kurang diminati. Riilnya justru satu jenis yang dikehendaki.
Oleh Priono Subardan tentang kedalaman emosi dan koneksi personal dalam setiap konten yang dibuat. Yang bersangkutan juga Konten kreator dari #k9dewa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar