Sabtu, 07 Maret 2026

Bak Membangun Istana di Atas Pasir: Merasa Sempurna dan Paling Benar Sama dengan Menciptakan Kehampaan

Membangun Istana di atas pasir, sama artinya menciptakan kebahagiaan.

BAGAI seseorang membangun istana di atas pasir. Itu akan didapat oleh wanita yang merasa sempurna dan paling benar, serta meremehkan suami, dalam perjalanan hidupnya.

Wacana ini cukup untuk direnungkan. Setidaknya keputusan demikian, akan melahirkan kepahitan.

Kehancuran dari Dalam: Kesepian yang Tak Asli
Awalnya dia mungkin merasa kuat dan hebat. Namun, karena selalu merasa benar, lambat laun tidak akan ada lagi diskusi hangat, canda tawa yang tulus, atau keintiman batin dengan suami. 

Suaminya akan menarik diri (silent treatment atau membatu) karena merasa tidak setuju pendapatnya.

Pada  titik ini, ia akan mengalami kesejahteraan dalam pernikahan—hidup bersama tetapi hati terasa sendiri.

Jatuhnya Sang "Pahlawan" dari Mata Anak
 Anak-anak adalah perekam yang ulung. Mereka akan melihat bagaimana ibu memperlakukan ayah.

Jika ibu selalu menegaskan ayah, anak bisa kehilangan rasa hormat pada ayahnya. Kecuali jika anak memahami sosok ayahnya.

Yang lebih berbahaya, anak laki -
laki bisa tumbuh dengan rasa rendah diri, sementara anak perempuan bisa meniru pola pikir bahwa  suami boleh direndahkan.

Harga diri suami yang runtuh juga akan meruntuhkan wibawanya sebagai kepala keluarga.

Boomerang Kesempurnaan: Saat Dunia Tak Berputar Sesuai Keinginannya
Orang yang merasa paling sempurna sulit menerima kegagalan. 

Saat masalah besar menerpa—misalnya masalah finansial, kesehatan, atau konflik besar dengan anak—ia akan terjebak dalam kebingungan. 

Ia terbiasa menyalahkan suami atau orang lain, tetapi ketika masalah itu datang murni dari luar kendalinya, struktur mentalnya bisa runtuh karena tidak pernah belajar menerima kritik atau bahwa dirinya bisa salah.

Suami Mencari "Rumah" di Tempat Lain
Ini adalah risiko paling nyata. Laki-laki secara fitrah ingin dihargai dan dikagumi, terutama oleh istrinya. 

Jika di rumah ia selalu dianggap bodoh, salah, dan remeh, hatinya akan tercabik-cabik.

Bisa jadi ia akan mencari tempat lain yang memberikan ketenangan dan penghargaan, entah itu dengan sibuk bekerja, mencari teman bicara, atau yang lebih parah, mencari pengungsi ke wanita lain yang membuatnya merasa menjadi "raja".

Transformasi Pahit: Menjadi "Ibu" bagi Suami, Bukan "Istri"
Hubungan suami-istri adalah hubungan kemitraan (QS. Al-Baqarah: 187 menyebut istri sebagai pakaian suami, dan suami sebagai pakaian istri). 

Jika istri selalu merasa paling benar, ia keluar dari fitrahnya sebagai “pakaian” yang menutupi kekurangannya.

Ia justru berubah menjadi "ibu" yang menggurui atau "bos" yang memerintah.

Akibatnya, dinamika pernikahan menjadi timpang dan tidak sehat.

Penyesalan di Ujung Perjalanan
Setelah melalui banyak konflik, keretakan, atau bahkan kehilangan, sering kali datang penyesalan. 

Saat ia sadar bahwa kesempurnaan yang ia banggakan dulu hanyalah ilusi, dan saat ia menyadari bahwa suaminya adalah manusia biasa dengan kekurangan dan kelebihan yang justru melengkapi dirinya, mungkin semuanya sudah terlambat. 

Mungkin suami sudah terlalu sakit hati untuk kembali seperti dulu.

Konsep "Paling Benar" Kehendak Ego
Sebenarnya ,  konsep "paling benar" tidak dikenal dalam pernikahan yang sehat 
Yang ada adalah saling melengkapi. 

Suami dan istri ibarat dua sisi mata uang; berbeda tetapi sama nilainya.

Rasa “sempurna” yang hakiki justru lahir dari kesadaran akan ketidaksempurnaan diri, sehingga kita selalu berusaha memperbaiki diri demi kebahagian bersama, bukan demi kemenangan pribadi.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluargaku, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR.Tirmidzi
).

Oleh: Priono Subardan
Juga, Praktisi & Pembuat Konten di  k9Dewa / k9Fit 

#k9Dewa
#k9Fit



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Unik Daya Rekat Alumni : Memori kolektif, Rasa memiliki, dan Nilai kekeluargaan

KOMUNITAS berbasis perekat sosial seperti satu sekolahan memang punya keunikan: ikatannya bukan karena aktivitas bersama yang rutin, melain...