RASA1JIWA - Nusa Tenggara Timur—bagi sebagian orang di ibu kota, mungkin hanya nama di peta.
Titik merah rawan bencana. Deretan berita duka.
Jauh dari gemerlap. Jauh dari akses cepat.
Namun justru di kejauhan itulah, kita menemukan cermin kepribadian yang membuat ibu kota terpaku.
Bukan karena gempa yang mengguncang.
Tetapi karena genggaman moral yang tak goyah meski tanah bergoyang.
FAKTA MENGGUGAH
Bayangkan pemandangan ini.
Ratusan pengungsi kehilangan rumah, keluarga, dan seluruh harta.
Mereka terpaksa mengungsi di antaranya di area sekitar Gudang Bulog.
Di tenda darurat. Di terpal seadanya. Di emperan bangunan yang masih berdiri.
Di dalam gudang yang roboh itu, bertumpuk karung-karung beras.
Ribuan ton. Cukup untuk menghidupi mereka berbulan-bulan.
Anak-anak menangis lapar.
Ibu-ibu menahan perih di dada.
Bapak-bapak menatap langit-langit gudang dengan mata kosong.
Jarak mereka dengan tumpukan bahan makanan itu hanya beberapa puluh meter.
Saat ini, jarak itu terasa lebih jauh dari Jakarta ke Kupang.
Namun, tidak satu karung pun disobek.
Tidak satu butir pun diambil tanpa hak.
PILIHAN MEREKA
Para pengungsi itu memilih berdiam di sekitar tumpukan kemakmuran yang semu.
Sementara perut mereka berteriak.
Mereka memilih menggigil di malam dingin.
Sementara di depan mata ada selimut-selimut bantuan logistik yang belum waktunya dibagikan.
Bukan karena takut hukum—polisi dan aparat pun sibuk menolong.
Tetapi karena hukum yang lebih tinggi hidup di dada mereka.
"Ini bukan milikku. Aku akan menunggu giliran."
Mereka tidak masuk ke dalam gudang.
Mereka menjaga pintu gudang tetap tertutup untuk tangan-tangan yang tak terundang.
Termasuk tangan mereka sendiri.
Mereka memilih lapar daripada menjarah.
IRONI YANG INDAH
Ada ironi yang indah di sini.
Di kota-kota besar, seringkali kita saksikan antrean bantuan berubah jadi huru-hara.
Rasa "aku paling berhak" mengalahkan rasa "kita semua saudara".
Tapi di NTT—yang sering disebut terisolir, tertinggal, miskin infrastruktur—justru lahir kekayaan moral yang tak terbantahkan.
APA YANG MEMBUAT MEREKA TEGUH?
Pertama, budaya harga diri.
Bukan gengsi semata, tetapi menjaga nama baik keluarga dan kampung.
Menjarah berarti menghina leluhur mereka sendiri.
Masuk ke gudang tanpa izin adalah aib yang tak terhapuskan.
Kedua, keteladanan tetua adat.
Para pemimpin lokal dengan lantang mengingatkan:
"Kita lapar sama-sama, tetapi kita mulia sama-sama. Beras ini milik semua, maka tunggu giliran dari yang berhak membagi. Berdiamlah di luar, bukan di dalam."
Ketiga, iman yang tidak sekadar ritual.
Bagi mayoritas masyarakat NTT, bencana adalah ujian dari Tuhan.
Dan ujian tidak dihadapi dengan curang, tetapi dengan kesabaran.
Masuk ke gudang tanpa hak sama dengan gagal dalam ujian.
JIKA NTT MAMPU, MENGAPA KITA TIDAK?
Mereka yang jauh dari pusat kekuasaan, jauh dari gemerlap ekonomi, justru mengajarkan satu hal.
Kepribadian luhur tidak memerlukan fasilitas. Ia hanya memerlukan kesadaran.
Saat berita tentang pengungsi yang berdiam di sekitar Bulog itu menyebar, banyak netizen dari Jakarta, Surabaya, dan Medan menangis haru.
Bukan karena gempa NTT lebih dahsyat dari yang lain.
Tetapi karena hati NTT lebih kokoh dari bangunan mana pun.
MEREKA BISA SAJA
Mereka bisa saja menerobos.
Mereka bisa saja mengambil.
Tapi mereka memilih untuk berdiam di luar.
Menunggu. Percaya bahwa keadilan akan datang.
Mereka menjaga gudang itu—bukan untuk negara, tetapi untuk semua.
Mereka memilih lapar daripada menjarah.
SURAT DARI NTT UNTUK INDONESIA
"Kami memang jauh dari Ibukota.
Tapi kejauhan ini mengajarkan kami: kejujuran tidak perlu ramai, kesabaran tidak perlu panggung.
Kami tidak tinggal di dalam gudang.
Kami berdiam di sekitarnya—menjaga pintunya, menjaga kehormatan, menjaga rasa malu.
Di sinilah—di tengah puing dan debu—kami buktikan bahwa kepribadian luhur tidak diukur dari dekatnya akses, tetapi dari teguhnya hati memilih benar."
PENUTUP
Mari jadikan contoh ini sebagai narasi kebangkitan.
Bukan hanya membangun kembali NTT secara fisik, tetapi juga memperkuat karakter bangsa.
Karena jika saudara-saudara kita di ujung timur bisa berdiam di sekitar tumpukan beras tanpa mengambilnya, memilih lapar daripada menjarah...
Maka kita yang di pusat pun seharusnya lebih mudah untuk saling berbagi, saling percaya, dan saling menjaga.
NTT tidak luntur di ujung rasa.
NTT justru mengajar dari ujung sana.
Bahwa martabat tidak butuh gelar.
Hanya butuh keteguhan.
Oleh : Priono Subardan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar