RASA1JIWA - Dunia saat ini haus akan gerakan, dan salat (sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia) —tanpa disadari—telah menyediakannya lima kali sehari.
Demikian kesimpulan kaitan gerakan salat di erat digital, seperti saat ini, yang dirangkum dari beragam sumber dan referensi wawancara dengan Ustadz Syamsudin, yang direkaman nya tersaji dalam berita ini.
Di tengah gaya hidup yang semakin sedentari (kurang gerak), sementara tubuh manusia terus membutuhkan aktivitas fisik rutin untuk bertahan sehat.
Gerakan salat bukan sekadar simbol ketundukan. Ia adalah serangkaian postur tubuh terstruktur yang melibatkan hampir seluruh sistem muskuloskeletal.
Dari berdiri tegak (qiyam), membungkuk (ruku'), sujud, hingga duduk (tahiyat)—semuanya adalah gerakan fungsional yang melatih keseimbangan, fleksibilitas sendi, dan kekuatan otot penopang tubuh.
Inilah mengapa salat bisa disebut sebagai "kebutuhan gerak" harian manusia, bukan sekadar tambahan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan aktivitas fisik ringan-sedang selama minimal 150 menit per minggu.
Jika dihitung, 5 waktu salat dengan durasi rata-rata 5–7 menit per rakaat (total 17 rakaat sehari) sudah menyumbang sekitar 35–40 menit aktivitas fisik terstruktur per hari.
Itu lebih dari cukup untuk menjaga sirkulasi darah tetap lancar dan metabolisme tubuh tetap aktif.
Manfaat gerakan salat yang telah teridentifikasi secara ilmiah antara lain: melancarkan aliran darah ke otak saat sujud, meningkatkan konsentrasi dan ketenangan saraf; mengurangi ketegangan otot punggung bawah akibat posisi duduk berkepanjangan;
Gerakan salat juga memperbaiki postur tubuh melalui gerakan membungkuk dan menegak secara berulang; serta mengaktifkan otot-otot kecil di sekitar persendian, yang sering terabaikan dalam olahraga konvensional.
Kunci dari manfaat kesehatan ini bukanlah jumlah rakaat, melainkan tuma'ninah—ketenangan dalam setiap gerakan.
Sebagaimana uraian Ustadz Syamsudin dari Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya:
(Dengan catatan HP memiliki aplikadi pemutar Audio)
Ketika ruku' dilakukan dengan lambat dan tulang punggung lurus, otot-otot erektor spinae bekerja optimal.
Saat sujud dilakukan dengan tenang dan dahi menempel lantai, sirkulasi darah ke area kepala dan wajah meningkat.
Inilah bentuk gerakan sadar (mindful movement) yang kini menjadi tren dalam dunia kebugaran global.
Maka, salat bukan pengganti olahraga, tetapi fondasi gerak harian yang menjaga tubuh tetap aktif di sela-sela kesibukan.
Ia adalah kebutuhan dasar, seperti makan dan minum—hanya saja dalam dimensi fisik dan spiritual sekaligus.
Namun, untuk mencapai kebugaran kardiovaskular yang optimal—seperti daya tahan jantung dan kekuatan otot maksimal—tubuh tetap membutuhkan olahraga terstruktur seperti berjalan cepat, bersepeda, atau renang.
Salat menyiapkan "panggung" kesehatan, olahraga menyempurnakannya.
Jadi, salat sebagai kebutuhan gerak pertama dan utama bagi tubuh. Jangan pernah lewatkan salat dengan alasan tidak sempat berolahraga.
Dengan salat, sejatinya sudah bergerak. Dan dengan olahraga, menjadikan tubuh lebih tangguh untuk beribadah lebih lama dan lebih khusyuk.
Salat adalah ibadah yang sekaligus menjadi jawaban atas kebutuhan gerak tubuh di zaman yang serba diam. Maka, bergeraklah karena Allah, dan rasakan sehat sebagai karunia-Nya.
Oleh : Priono Subardan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar