RASA1JIWA - Tiga modus ini - Telepon, WhatsApp, dan Video Call - termasuk yang paling "hit" atau paling sering digunakan dan paling merugikan masyarakat Indonesia dewasa ini.
Diperkirakan pula, modus ini prospektif dan akan terus berkembang dengan teknologi baru, yang berlomba kehadirannya.
Kesimpulan sebagai modus penipuan paling sering digunakan ini bertolak dari data Indonesia Anti Scam Center (IASC) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Faktanya, ini paling sering dan sangat merugikan.
Sekitar 66 persen masyarakat Indonesia pernah menjadi target, setidaknya satu kali, berdasarkan laporan Global Anti-Scam Alliance 2025.
Total kerugian yang tercatat dari November 2024 hingga Januari 2026 mencapai Rp9,1 triliun, dengan jumlah laporan sebanyak 432.637 kasus yang diterima IASC pada periode yang sama.
BUKAN TELEPON BIASA
Kenapa ini sangat berbahaya? Bukan sekadar telepon biasa. Pola penipuan ini kini punya tiga varian yang sangat merusak.
Pertama, Phantom Hacker Scam yang paling berbahaya.
Pelaku berpura-pura menjadi bank atau polisi, lalu meminta Anda mengaktifkan fitur "Share Screen" atau Bagikan Layar saat video call WhatsApp.
Di sinilah pelaku bisa melihat langsung kode OTP yang masuk, sehingga rekening langsung kosong dalam hitungan menit.
Kedua, file APK berbahaya. Ini modus klasik yang masih ampuh.
Pelaku mengirim file undangan pernikahan, surat tilang, atau konfirmasi paket. Jika diinstal, file ini secara diam-diam mencuri semua data dan SMS Anda.
Ketiga, Deepfake dan pemerasan lewat video call.
Modus video call untuk memeras kini semakin canggih.
· Pemerasan (VCS): Pelaku mengajak video call tidak senonoh, merekamnya, lalu mengancam akan menyebarkan rekaman tersebut jika korban tidak membayar sejumlah uang .
· Rekaman Palsu (Deepfake): Teknologi AI memungkinkan pelaku memalsukan suara atau wajah kerabat/atasan korban untuk meminta transfer uang.
4 LANGKAH HINDARI SEBAGAI KORBAN
Berdasarkan kecanggihan penipuan itu, terapkan Tiga langkah pasti agar terhindar sebagai korban.
Berdasarkan rekomendasi BSSN dan bank besar, lindungi diri dengan cara berikut.
Jangan pernah aktifkan Share Screen di WhatsApp, Zoom, atau aplikasi apapun jika diminta oleh orang yang menghubungi, apapun alasannya.
Jangan klik tautan atau buka file APK dari nomor tidak dikenal, meskipun tampilannya menggiurkan atau menakut-nakuti.
Jangan berikan OTP atau PIN. Ingat, bank, polisi, atau operator resmi tidak pernah meminta kode rahasia Anda melalui telepon, WhatsApp, atau video call.
Verifikasi mandiri: Jika "keluarga" menelepon minta uang, hubungi kembali via nomor lama. Jika "bank" menghubungi, matikan telepon dan hubungi call center resmi bank tersebut .
IDENTIFIKASI PENIPU
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai lembaga termasuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), pola penipuan melalui telepon, WhatsApp, dan video call dapat diidentifikasi dengan melihat beberapa ciri khas modus operandinya.
Itu khas yang terbaca kini. Dipastikan bakal terus berkembang.
Data data itu tidak hanya mengandalkan laporan korban, tetapi juga analisis terhadap teknologi yang digunakan pelaku .
Berikut adalah rincian bagaimana data mengidentifikasi metode penipuan tersebut:
Modus Panggilan Telepon & WhatsApp
Data menunjukkan modus telepon klasik kini meningkat dengan memanfaatkan WhatsApp.
Pola yang teridentifikasi antara lain:
· Mengaku dari Lembaga Resmi: Pelaku berpura-pura menjadi bank, polisi, atau provider, biasanya membawa isu darurat (seperti pemblokiran rekening) untuk memicu kepanikan korban.
· Social Engineering (Rekayasa Sosial): Pelaku memanipulasi psikologi korban untuk mendapatkan data sensitif secara sukarela, seperti OTP atau PIN.
· Mengirim File APK atau Tautan (Phishing): Mirip modus "kurir paket" atau "undangan digital", pelaku mengirim file APK berbahaya yang jika diinstal akan memberi akses remote ke ponsel korban.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar